Tak ada kata yang mampu mampu mewakilkan perasaanku saat ini. Sedih, kesal, kecewa dan sakit hati semua bercampur jadi satu. Tiga tahun sudah ku rajut kisah bersamanya. Melewati masa-masa bahagia dan susah bersama. Niat untuk melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius pun sudah ada. Namun, seperti petir di siang bolong kau ucapkan kata-kata yang tak ingin ku dengar. “Aku tau ini gak mudah buat kamu. Tapi, percayalah ini adalah keputusan yang terbaik. Aku gak mau buat kamu sedih lagi,” ucapnya malam itu. Aku tak percaya dengan mudah kamu ucapkan kata-kata itu, dengan mudah kamu biarkan aku meneteskan airmata. Tiga tahun sudah aku berusaha memahami, mengerti dan belajar menjadi yang terbaik buat kamu. Tapi, apa yang kamu lakukan?
Setelah kejadian itu hari-hariku terasa gelap, semua terasa hampa. Seminggu sudah ku habiskan waktuku dengan menangis, dan meratapi kesedihanku. Ku tatap wajahku dicermin. Terlihat kusut seperti mayat hidup. Mataku terlihat bengkak dengan tatapan mata yang kosong. Orangtua serta sahabat terdekatku mencoba menyemangatiku tapi tak pernah ku hiraukan.
“Sudahlah Mal, kalau emang dia jodoh lo dia akan balik lagi kok sama lo,” ujar Hana
“Ini gak semudah apa yang lo pikirin Han, coba lo jadi gue? Lo pasti akan ngelakuin hal yang sama kayak gue,” jawabku sambil menatapnya sendu.
“Hmm, siapa bilang gue gak pernah ngerasain hah? Gue tau apa yang lo rasain! Gue pernah ngerasain apa yang lo rasain! Tapi, apa perlu lo bersedih-sedih, lo sakiti diri lo kayak gini!” Hana nampak kesal.
“Gue tau semua ini emang gak mudah buat lo. Tapi, ini semua udah terjadi sesuai jalan ceritanya. Sekuat apapun lo menolaknya tetap aja gak bisa.”
Aku menatapnya, tak pernah ku lihat ia semarah itu kepadaku. Sejak pertama kali mengenalnya hampir tak pernah ia marah kepadaku.
“Maaf kalau gue sok guruin lo, gue ngelakuin semua ini karena gue sayang sama lo! Gue mau lo berdamai sama hati lo. Coba menerima ketentuan Tuhan, ikuti jalan ceritanya. Karena hanya dengan seperti itu hidup lo akan jauh lebih baik.” Hana mengenggam tangannku hangat.
Aku tak kuasa menahan tangis. Ku jatuhkan tubuhku dalam pelukannya.
“Terima kasih,” ucapku sambil terus menangis.
“Sama-sama, udah jangan nangis lagi ya.”
Kini aku semakin mengerti dibalik setiap kejadian pasti ada hikmah yang dapat dipetik. Aku sadar selama ini sifat dan perbuatanku jauh dari kata sempurna. Terlalu lama aku menjauh dariNya, terlalu sering aku melakukan hal yang dilarangNya. Salah satunya dengan pacaran. Mungkin itu sebabnya ia menegurku agar aku kembali mengingatNya. Mungkin benar yang dikatakan Hana sebaiknya aku focus untuk berbenah diri.
“Kalau bisa sih jangan pacaran lagi hehe,” katanya.
“Iya bu guru, insyaAllah muridmu ini tidak akan berpacaran lagi sebelum menikah hehehe,” kataku sambil tersenyum.