Minggu, 23 April 2017

Dilema mahasiswa tingkat akhir

Menjadi mahasiswi tingkat akhir dengan setumpuk tugas yang belum terselesaikan memang cukup membuat otak keriting. Pikiran bercabang, makan jadi tidak teratur, tidur gak nyenyak pokoknya nikmat banget deh.

"Mending nikahin adek aja deh bang," kata seorang teman yang juga sudah lelah dengan rutinitasnya.

Bagaimana tidak, pagi sampe siang dia habiskan waktu untuk kuliah, sore sampe malam dia gunakan untuk bekerja. Alhasil lingkaran matanya pun semakin hitam. Hihi

Tapi, ada juga yang masih tetap semangat menjalani hari-harinya ditengah rutinitasnya yang super duper padat. Bahkan artis pun kalah padatnya sama dia. Sebut saja dia "Mawar". Seorang aktivis kampus yang luarrr biasa semangatnya. Mulai dari kuliah, organisasi, ngajar sana sini, dan tak lupa membantu orang tua di rumah. Pertama kali saya berkenalan dengannya saya langsung respect dan kagum sama semangat empat limanya.

Bagaimana bisa ia membagi waktunya dengan baik? Sedangkan saya saja yang tidak begitu banyak rutinitasnya terkadang masih keteteran. Kok dia bisa ya? 

Pernah suatu waktu saya bertanya kepadanya "War emang kamu gak capek apa? udah kuliah sambil kerja masih tetep ikut organisasi juga?"
dengan senyum dia menjawab, "Capek sih ada tapi yaa dinikmatin aja," 

"Dinikmatin aja maksudnya?"

"Yaa nikmatin aja Cit, toh semua ini adalah pilihan kita. Sebelum kita memilih pasti kita udah tau apa konsekuensinya kan? Jadi yaaa nikmatin aja. Mau ngeluh? Untuk apa? Emang dengan ngeluh rasa capek itu akan hilang?"

Jawabannya kena banget kan? 

"Mantab jiwa, hehehe" jawabku tertegun
"Terus gimana caranya kamu bagi waktu antara aktifitas kamu di organisasi, kampus dan tempat ngajar?"

"Jadi gini, ada orang yang bisa mengerjakan dan memikirkan semua hal dalam satu waktu. Nah ada juga orang yang gak bisa memecah fokusnya, jadi kudu diselesaikan dulu satu tugasnya baru selesaiin tugas yang lain. Aku salah satu tipe orang yang kedua." Ujarnya

"Terus, kalau deadline tugasnya kebetulan serentak gimana?" Aku masih penasaran

"Yaa makanya ketika dikasih tugas langsung aja aku kerjain, sebab kalau ditunda-tunda jadinya malah malas akhirnya keteteran deh,"

"Oh gitu," saya mengangguk mengerti

"Terkadang rasa jenuh, lelah dan lain-lain juga aku rasain. Tapi, balik lagi aku inget tujuan aku melakukan ini semua untuk apa. Kalau kamu mulai capek coba kamu bayangin aja wajah orang tua kamu, insyaAllah rasa capek itu akan hilang hehe" 

Ya, memang benar tugas seharusnya dikerjakan bukan dikeluhkan. Kalau mau ngomong capek, orang tidur pun juga capek. Hhehee

Dari obrolan saya dengan Mawar saya jadi sadar kalau apa yang saya lakukan belum ada apa-apanya dibanding dia. Lantas kenapa saya gak bisa melakukannya jika dia aja bisa? Intinya mah jangan malas, jangan menunda-nunda. Jodoh aja ditunda gak mau kan? Hahahaa


Untuk para mahasiswa tingkat akhir percaya deh jika kita melakukan sesuatu karna usaha yang besar maka hasil yang kita peroleh juga akan besar. Yuuuk selesaikan tugasnya! Tetap semangat, jangan lupa makan dan tidur teratur. 


Ganbatte ne ^_^

Minggu, 16 April 2017

Hujan

Hujan memang selalu membawa berkah, menciptakan kebahagiaan tersendiri bagi orang yang menyukainya. Tak terkecuali kamu, kamu yang selalu suka hujan, kamu yang selalu menanti hujan di setiap pagi hingga malam. Hari ini akhirnya hujan itu datang, menciptakan senyuman untukmu, menyempurnakan kebahagiaan bahkan separuh agamamu. Ia datang tanpa diduga, melalui proses yang sederhana dan begitu cepat. Awan hitam yang dulu kelam kini kembali bersinar saat uap air berhasil ia turunkan. Menciptakan pelangi dan kesejukan. Hari itu kamu terlihat cantik dengan senyum bahagia yang merekah, meskipun awalnya ada sedikit kesedihan karna kau harus berpisah dengan malaikatmu di dunia. Tapi, lagi-lagi hujan menenangkan dan meyakinkan bahwa kedatangannya bukan untuk memisahkan. Sekali lagi kuucapkan selamat untukmu, selamat karna berhasil melewati proses demi prosesnya. Semoga hujanmu senantiasa memberikan kebahagiaan bukan hanya di dunia saja namun hingga di akhiratNya kelak. Doakan saja aku agar senantiasa sabar menanti hujan seperti katamu "Fatimahkan dirimu sampai Ali menjemputmu,"

Rabu, 05 April 2017

Surat Untuk Abil

Dik Abil, Apakabar? Semoga Allah senantiasa menjagamu dalam pelukNya.

Dik, beberapa minggu lalu sosial media dihebohkan dengan berita tentangmu. Fotomu yang tengah kelelahan terpampang hampir disemua akun instagram. Dengan seragam cokelat yang masih kau kenakan. Kau ketuk kembali hati kami yang hampir mati, kau ajarkan kami untuk kembali mensyukuri.

Dik Abil yang saya cintai, ditengah teman-teman seperjuanganmu yang kini terlena dengan gadget, kau malah asyik menjajakan dagangan, berpeluh keringat dan lelah hanya untuk menyambung sekolah.  Rasanya ini tidak adil. Kau yang masih ingin bersekolah harus berjuang susah payah sedangkan mereka yang sudah hidup mewah malah malas ke sekolah. 

Tapi, tenang dik. Allah sangat sayang kepadamu. Ia sengaja memberikan hujan agar kamu dapat melihat pelangi. Percayalah dik, setiap pengorbanan besar pasti ada balasan yang besar pula. Mungkin kau pernah mendengar pribahasa ini "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian." 

Dik Abil, cukup sekian surat dari saya. Tetaplah semangat mengejar mimpimu. Peluklah mimpimu dan wujudkanlah. Percayalah banyak tangan Tuhan yang siap menggandengmu, menyambutmu dipuncak impian. Tetaplah gigih dan bersahaja karna kamu pasti akan menjadi orang sukses dikemudian. 


FYI : Anak ini namanya Abil usianya 11 tahun, saat ini ia masih duduk di kelas 4 SD. Setiap pulang sekolah ia berjualan snack di depan kampus saya (Universitas Indraprasta PGRI Jakarta). Ia berjualan hingga larut malam. Menurut informasi Ayah Abil adalah seorang penjual cilor ( cilok telor). Abil berjualan untuk membantu orangtuanya dan untuk biaya sekolahnya. Kedua kakaknya sudah putus sekolah. Setelah ramai dibicarakan di media sosial banyak relawan-relawan kemanusiaan yang menemuinya dan beberapa waktu lalu Abil di undang di acara hitam putih. 






Sabtu, 01 April 2017

Make Your Self Better Than Yesterday

Apa yang kita lakukan hari ini adalah hasil keputusan kita kemarin ~

Kita tak pernah tau akan jadi apa kita dikemudian hari. Berada dimana kita nanti. Dan dengan siapa kita akan bertemu. Sama halnya saya. Saya tak pernah menyangka bisa berada disini. Di tengah wanita-wanita hebat seperti mereka. Ya hebat! Mereka yang dengan mudah menjaga pandangan dan dirinya dari apa yang tidak dihalalkan baginya. Mereka yang dengan indah melantunkan ayat-ayatNya. Mereka yang selalu menjaga hubungannya dengan semesta dan penciptaNya. Saat pertama kali melihat mereka jiwa ini terasa tentram. Pakaian ketaqwaan yang begitu santun dan sederhana telah berhasil menyedot perhatiaan saya.

"Kamu gak gerah apa pake jilbab sepanjang itu?" Tanya saya pada salah seorang teman yang sudah terlebih dahulu berjilbab syar'i. Dia juga yang sudah membantu saya memperbaiki diri hingga kini.

"Lebih baik panas di dunia daripada harus merasakan panasnya api neraka," jawaban yang membuat bulu kuduk saya seketika berdiri.

Awal saya berjilbab yaitu saat saya duduk di kelas 2 SMK. Saat SMK dulu hampir teman sekelas saya mengenakan jilbab. Saya sangat senang sekali melihat mereka yang tubuhnya berbalut jilbab. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk berjilbab. Jilbab yang saya kenakan dulu belum sepanjang sekarang tapi saya tetap konsisten untuk memakainya baik di rumah maupun di luar rumah. Hari-hari panjang telah saya lewati, kekecewaan dan penyesalan akan masa lalu berhasil membuat saya sadar bahwa tiada sandaran selain Allah. Saya merasa malu sama Allah, karna begitu banyak dosa yang saya perbuat tapi, Allah begitu baik kepada saya. Dari sanalah saya meyakinkan hati untuk lebih dekat denganNya, berusaha menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Meski terkadang godaan terus menghampiri, cercaan dan cibiran menyelimuti.

"Namanya juga hidup, ada aja orang yang mengomentari sekalipun kita sudah berbuat baik," pikirku

Hidup untuk yang Maha hidup tak peduli apa komentar orang terhadapmu. Bukankah penilaian Allah lebih penting daripada penilaian manusia?

Let's walk together to jannah.



Allah memang Maha Baik. Ia memperkenalkan saya dengan orang-orang yang memiliki satu misi dan visi dengan saya yaitu sama-sama ingin 'berubah' ke jalan yang Allah ridhoi. Kita sama-sama belajar, saling ingat mengingatkan dalam kebaikan dan menasehati dengan kesabaran. MasyaAllah saya jadi tambah malu sama Allah dengan begitu banyaknya karunia yang diberikan.

"Rejeki tidak melulu tentang uang, dipertemukan dengan sahabat-sahabat sholiha juga merupakan rejeki karna bisa jadi tangan merekalah yang akan menarik kita ke surgaNya kelak," ujar salah seorang sahabat saya.

Jika kamu ingin berubah menjadi manusia yang lebih baik maka langkah awal yang harus kamu tempuh adalah memilih teman yang baik.
Seperti pepatah bilang 'jika kita berteman dengan penjual minyak wangi maka kita akan terkena wanginya, pun jika kita berteman dengan tukang pemanas besi maka kita akan terkena panasnya.'

Berteman memang boleh dengan siapa saja tapi pandai - pandailah dalam memilih sahabat. Carilah sahabat yang senantiasa mengingatkan dalam kebaikan.