Minggu, 22 Januari 2017

Kembali ~


Aku mencoba untuk melupakannya, melenyapkan semua mimpi serta citaku.
Tak ku rubis lagi revolusi-revolusi yang kubuat tentangnya.  Ku sibukkan diriku dengan hal lain, aku benar-benar ingin lupa!
Hingga suatu hari,  perhatianku kembali tertuju kepadanya,  ingatanku berputar saat aku masih membersamainya,  ku lihat,  ku baca dan menghadirkan secuil senyum dibibirku "Aku rindu, " desahku lirih. Aku rindu kebersamaanku dengannya. Sudah cukup banyak waktu yang ku lalai bersamanya.  Senang,  sedih,  jatuh cinta, patah hati, lalu bangkit kembali ku tuangkan lewatnya. Kini ketika aku kembali membuka catatan-catatan kecilku di facebook,  membuat dinding kekuatanku hancur.
"Segitu sajakah perjuanganmu? Sebegitu menyerahkah dirimu?Ku mohon, kembalilah! Kembali bersamaku, menghabiskan waktumu denganku, " tulisan - tulisan itu seakan memintaku kembali.
"Bisakah aku kembali?  Dapatkah aku menulis lagi?" pikirku sedikit ragu
"Ya,  kamu pasti bisa!" kini tulisan itu seolah menyemangatiku.
Akhirnya di awal tahun ini aku kembali.  Kembali menemukan semangatku yang hilang.  Kembali merasakan jatuh cinta,  ya jatuh cinta dengan hobi lamaku.  Semoga semangat ini tak lagi hilang, semoga aku dapat terus membersamaimu meski satu minggu sekali!

Senin, 11 Agustus 2014

Believe Your Self


                                                   Banyak kita jumpai dan kita dengar para remaja atau bahkan teman sejawat kita yang selalu merasa putus asa. Merasa dunia ini tidak adil. Merasa dirinya tak berguna. Padahal setiap manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda satu dengan yang lain. Misalnya; Si A dia sangat ahli dibidang komunikasi namun dia kurang ahli dibidang masak memasak. Hadirlah Si B dia sangat ahli dibidang masak memasak sampai akhirnya ia bercita-cita untuk membuat restoran sederhana tapi, dia agak pendiam sehingga ia butuh orang yang pandai berkomunikasi untuk mengajarinya. Ya, begitulah hidup. Saling melengkapi. Coba bayangkan jika semua orang memiliki keahlian yang sama dan kekurangan yang sama?. Dunia ini tidak akan terasa indah. Alasan mendasar yang membuat seseorang putus asa adalah kurangnya rasa kepercayadirian. Merasa minder dan takut untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.
                                                    Kenapa rasa kepercayadirian itu begitu kurang? Kurangnya rasa kepercayadirian disebabkan oleh ketidak yakinan akan kemampuan yang kita miliki dalam diri kita. Kurangnya motivasi dalam diri sendiri. Motivasi dalam diri sendiri merupakan salah satu hal yang sangat berpengaruh dalam perkembangan dan kesuksesan seseorang. Jika kita terbiasa memotivasi diri dengan hal-hal yang positif, otak dan tubuh kita juga akan melakukan hal yang positif. Dengan begitu kita juga akan mendapatkan hasil yang positif. 
                                                  Selain itu, kita juga perlu berkomunikasi dengan orang lain. Berteman dengan banyak orang. Atau gabung dalam organisasi. Aktif dalam berorganisasi juga dapat meningkatkan rasa kepercayadirian seseorang. Membuat kita lebih pede berkomunikasi di depan umum. Selain itu dengan berorganisasi kita bisa dapat masukan dan dukungan dari teman-teman. Sehingga, rasa minder itu lama kelamaan akan berkurang.

Jadi, gak usah takut atau cemas jika kita merasa kurang minder. Karena rasa minder itu dapat diatasi dengan rasa keyakinan dalam diri sendiri, bergabung dengan sebuah organisasi, dan selalu berfikir positif.


Jakarta, 11 Agustus 2014

Sabtu, 02 Agustus 2014

Inilah Pilihanku



                                          Bicara tentang mimpi sama halnya bicara tentang harapan. Ya, harapan. Semua orang di dunia ini tak ada satupun yang tak pernah bermimpi, bercita-cita, dan berharap akan sesuatu. Tapi, tak jarang orang yang mau memperjuangkan mimpinya, cita-citanya, dan harapannya. Mungkin bagi sebagian orang mimpi adalah pemanis dan bunga tidur saja. Mereka terlalu takut untuk mewujudkan dan memperjuangkan mimpinya. Padahal mimpi adalah the power of life. Bagiku mimpi adalah kompas yang akan memanduku untuk mencapai tujuan hidup. Dengan mimpi kita bebas berimajinasi, mengkhayal tentang masa depan kita. Mimpi adalah penyemangat. Penguat saat kita lelah menjalani kehidupan ini.

                                         Awalnya aku memang seorang yang takut untuk bermimpi. Takut apa yang aku inginkan dan aku impikan tak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Pernah terlintas dibenakku apakah pantas aku bermimpi? Toh tanpa mimpi hidupku tetaplah seperti ini. Banyak juga orang yang mengejekku. “Sudahlah jangan terlalu banyak bermimpi! Nanti kalau gak sesuai kenyataan kamu sendiri yang akan sakit,” ucapnya sambil tertawa. Sempat aku membenarkan ucapan itu dan berfikir kalau aku terlalu berharap akan mimpi yang belum pasti terwujud. Namun, ternyata pemikiranku salah. Mimpi adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk tetap ditempat atau beranjak ke tempat yang lebih baik. Orang yang mempunyai mimpi besar sangat jauh berbeda dengan orang yang tak mempunyai mimpi. Dengan adanya mimpi orang akan lebih bersemangat meraih cita-citanya. Lebih kuat menjalani hidupnya. Lebih tegar saat dunia menjatuhkannya. Mereka selalu percaya tak ada hal yang sia-sia. Bukankah Allah sudah menjanjikan. Tak akan berubah nasib seseorang jika kita tak merubahnya. Ya, begitu juga dengan mimpi. Mimpi adalah pilihan. Pilihan untuk tetap bermimpi saja atau berjuang untuk mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan. Aku akan buktikan pada dunia bahwa mimpi bukan hanya sekedar angan-angan saja. Bukan harapan kosong belaka. Aku akan berjuang dan buktikan suatu saat nanti mimpiku akan menjadi kenyataan.

Kamis, 19 Juni 2014

Sebuah Petunjuk

Dibirunya laut
Di bawah mentari yang pelan-pelan mulai tenggelam
Aku berdiri
Menatap hamparan laut yang luas
Menatap megahnya cakrawala dikala senja

Aku masih terus berdiri
Menatap kosong bayangan diriku dihamparan pasir putih
Hingga, sesuatu hal menarik perhatianku
Ya, para nelayan itu.
Suara batinku berkata "Lihatlah para nelayan itu!"

Satu persatu mereka rapatkan perahu kecilnya dibibir laut.
Dengan semangat yang menggebu mereka berjuang
Bergelut dengan ombak laut yang saling bersahutan
Demi anak dan keluarganya
Demi masa depan yang Tuhan janjikan

Aku menatap haru
inikah petunjukMu?

Jumat, 13 Juni 2014

Dibawah langit

                     Masih ingatkah kalian? Dibawah langit malam, disaksikan jutaan bintang. Kita ungkapkan semua harap, mimpi, dan cita yang melebur dalam doa. Dibawah temarang bulan kita tatap langit malam dengan penuh suka cita, dengan cinta di dada.
                     Masih ingatkah kalian kalimat ajaib yang pernah kita lantunkan malam itu? Dengan penuh harap dengan semangat yang meluap. Semoga kalian masih mengingatnya seperti aku yang tak pernah melupakannya. Ijinkan aku mengutip aksara-aksara kata yang tersusun indah menjadi kalimat ajaib itu.
“Kita adalah lima peri kecil yang lahir dari rahim yang berbeda, dengan karakter yang tak sama, dan dengan sejuta mimpi yang kan mewarnai dunia. Bersama kita kepakkan sayap. Menari indah di langit fatamorgana. Melukis cerita di balik kemegahan cakrawala. Kita percaya kelak, kita akan mengubah dunia. Dengan bias-bias cinta, dengan mimpi-mimpi besar kita.”
Kalimat ajaib ini sudah menjadi dopping bagiku. Memberikan semangat disetiap langkahku.
                         Masih ingatkah kalian saat pertama kali kita bertemu? Dengan pita-pita merah yang terlekuk indah dikepala, dengan senyum malu yang menyungging di bibir kita. Kita saling menyapa, saling menyebutkan nama.Hingga akhirnya kita bisa saling mengenal sampai saat ini, dan ku harap bisa abadi sampai selamanya.
                   
                           Masih ingatkah kalian saat tiba-tiba aku mulai sibuk dengan aktifitas lainku dan menjauhi kalian? Dengan sabar dan halus kalian mengajakku bicara. Kalian bahkan meminta maaf untuk kesalahan yang tak pernah kalian buat. Dari sanalah aku mengerti bahwa kalian lebih dari seorang teman.
Sahabat, terimakasih atas segala waktu berharga yang pernah kita lalui bersama baik saat suka maupun duka. Terimakasih atas semua pelajaran yang pernah kau ajarkan kepadaku. Tentang arti kehidupan, tentang cinta, tentang manisnya berbagi dan indahnya kebersamaan. Bagiku kalian bukan hanya seorang sahabat. Kalian adalah keluarga baruku, tempatku titipkan mimpi-mimpiku. Kalian adalah guru, yang banyak mengajarkanku pelajaran-pelajaran baru yang tak bisa ku dapat di sekolah. Aku selalu berharap semoga Tuhan selalu mempersatukan kita di dunia maupun di akhirat.

Rabu, 11 Juni 2014

Sebuah kenangan

Sarapan?
Satu kata yang membuatku kembali mengingat masalaluku. Lebih tepatnya masa kanak-kanakku. 7 tahun yang lalu, saat aku masih duduk dibangku sekolah dasar. Ayah membuatkanku sarapan. Ayahku memang jago sekali masak tidak kalah hebat dengan ibuku. Beliau sering melakukan eksperimen. Membuat masakan yang beda dari yang lain. Pagi itu, aku sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Ayah menyeruku untuk makan bersamanya karena ibu dan kakakku sedang pergi ke rumah nenek di kampung.
"Ayo Cha, sarapan dulu. Ayah udah masak nasi goreng ikan asin nih," ajak ayah.
Aku yang tidak suka dengan ikan langsung menggeleng.
"Kamu ga suka? Cobain aja dulu nanti pasti ketagihan." ayah menyarankan namun aku tetap menolak.
"Aku gak suka yah, ikan asin ga enak," ucapku jujur. Ayah menatapku lalu dengan lembut iya bertanya "Terus Chaca mau makan apa? kalau Chaca gak sarapan nanti perutnya sakit."
Aku diam sejenak untuk berfikir mau makan apa.
"Chaca mau makan bubur ayam yang di depan rumah sakit itu yah," kataku
"Yaudah hari ini kita sarapan bubur disana ya."
Akhirnya aku dan ayah pergi ke tempat bubur yang aku inginkan. Saat melewati kolong jembatan yang ada di deket rumah sakit ayah menyuruhku untuk melihat anak-anak kecil dengan pakaian kumuh sedang duduk membentuk lingkaran dan makan bersama-sama.
"Kamu lihat disana? Anak-anak itu hanya bisa makan satu bungkus nasi untuk bersama. Malah terkadang mereka harus menahan lapar karna tidak punya uang untuk membeli makan," terang ayah.
Aku berfikir, dan mencerna apa yang disampaikan ayah. Aku jadi merasa bersalah karena telah menolak makanan yang dibuatkan ayah untukku. Seharusnya aku lebih mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepadaku. Aku merenungi kesalahanku. Betapa berdosanya aku yang telah menyia-nyiakan nikmat dariNya padahal masih banyak orang yang tak seberuntungku.
"A...yah" panggilku lirih.
"Ya," ayah menengok ke arahku
"Maafin Chacha ya."
"Maaf untuk apa sayang?"
"Maafin Chaca karna udah nolak makanan buatan ayah," kataku dengan kata berkaca-kaca.
Ayah memberhentikan mobilnya tepat di depan sekolahku.
"iya ayah sudah maafkan. Sekarang kamu masuk, belajar yang rajin yah." pesannya