Rabu, 22 Februari 2017

Memahami Sabar





"Sabarlah dengan sebaik-baiknya sabar," Ucapmu yang selalu terngiang dipikiranku.  Menemani langkahku yang terkadang mulai bengkok.

Aku kembali mendengar kata "sabar" dan kau adalah orang yang kesekian kalinya yang mengingatkanku tentang sabar disaat bahkan disetiap musibah yang aku alami.  Seperti halnya hari ini saat aku tetiba lupa menaruh ponselku hingga akhirnya ponsel itu lenyap dari genggamanku.

"Sabar ya Git,  kalau emang rejeki pasti balik lagi kok," ucapmu mencoba menenangkan.  Awalnya aku muak dengan kata sabar,  bisakah kalian mengucapkan kata lain selain sabar.  Aku tau, aku mesti sabar menerima semuanya tanpa harus kalian beritahu.
Ah,  adakah kata manis dan menenangkan selain kata sabar? Hingga suatu waktu kamu datang menemuiku dan membuka pikiranku tentang makna sabar sesungguhnya.

"Fashbir Shabron Jamila," katamu yang kala itu menemuiku saat aku sedang benar-benar terpuruk.  Terombang ambing oleh perasaan kecewa,  sedih,  dan kebencian.

"Aku udah sabar banget Din tapi,  kenapa Allah selalu mengujiku." ujarku
"Sabar itu gak ada batasnya Git. Allah menguji kamu karna Allah tau kamu bakalan kuat menghadapinya," jelas Dina
"Sama halnya kamu sekolah.  Enggak mungkinkan guru kamu ngasih soal ujian kelas 10 padahal kamu sendiri masih duduk dibangku SMP." lanjutnya.

Aku mencerna setiap kata yang terucap dari mulutnya sambil sesekali beristighfar memohon ampun kepada Allah.

"Nah, apalagi Allah.  DIA gak akan pernah salah memberikan ujian bagi hambanya. Bukankah ujian juga merupakan salah satu bukti CintaNya?"

Hatiku kembali luluh mendengar ucapannya yang begitu tenang dan mendamaikan. Kamu benar, aku harus banyak memahami sebuah kata.  Salah- satunya memahami makna sabar yang sesungguhnya.  Karna jika kita telaah lebih jauh, sabar bukan hanya ungkapan dari  penerimaan semata, bukan pula kemampuan untuk menahan emosi.

Sabar berarti kita yakin bahwa Allah tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuan hambanya.  Sabar, meneguhkan hati kita bahwa di setiap kesusahan pasti ada kemudahan.  Sabar, menyakinkan kita bahwa semua berasal dariNya dan akan kembali kepadaNya.  Dan sabar senantiasa mengingatkan kita bahwa apa yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik menurutNya. 


Selasa, 07 Februari 2017

M A A F


Nad,  hari ini adalah hari kesepuluh aku melepasmu.Tatap kosong matamu masih teringat jelas dipikiranku. Raut wajah kekecewaanmu pun masih menghantui malam-malamku. Salahkah aku melepasmu? Hingga kini pikiranku masih selalu tentangmu. 
Meski terkadang logika kembali menyadarkanku bahwa ini adalah keputusan besarku. 


Nad,  ku tau kau akan sangat membenciku, mencaciku dan menganggapku jahat. Aku akan terima semua kekecewaan serta kemarahanmu asal kau dapat bahagia. Ya,  bahagia dengan hidup barumu tanpaku.

Nad,  maafkan aku yang belum bisa menjadikanmu satu-satunya wanita yang bersemayam dihatiku karna aku pun tak mau durhaka kepada ibuku.Bukankah Rasul menganjurkan kita untuk berbakti kepada ibu?  Jadi ku mohon maafkanlah aku. 


Maafkanlah aku yang belum mampu menjadikanmu bidadari dihidupku, mengajarimu banyak ilmu serta menghalalkanmu.  Aku tau aku pengecut. Bahkan untuk berhadapan dengan ayahmu pun aku tak berani. Oleh sebab itu,  biarkanlah aku pergi. 


Nad,  ku tau kau adalah gadis yang tegar.Semangatmu pun selalu menyegarkan. Kau selalu berpesan untuk selalu memaafkan bukan? Katamu memaafkan lebih mudah daripada menerima.  Kini,  ku mohon kau dapat memaafkan serta menerima. Menerima bahwa tak selamanya apa yang kau inginkan dapat kau dapatkan.Menerima bahwa takdir bukan sebuah kebetulan. Menerima bahwa disetiap pertemuan pasti ada perpisahan. 


Begitulah Nad,  aku ingin kau bahagia dengan hati yang damai dan penuh keikhlasan. Aku disini akan selalu mendoakan dan belajar.Semoga kelak jika Tuhan ijinkan kita kembali bersama kau takkan ku kecewakan. Tapi,  jika ternyata takdir tidak menyiratkan maka ku harap kita akan sama-sama bahagia dengan apa yang telah disuratkan.  


Jakarta,  08 Februari 2017
 



Rabu, 01 Februari 2017

Suka Duka Angkoters

"Ayo neng langsung berangkat! " teriak salah satu supir angkot yang sedang ngetem di sekitar terminal. Saya pun masuk ke dalam angkot tersebut.  Nasib punya rumah yang lumayan jauh dari kampus membuat saya harus naik angkot tiga kali untuk sampe ke kampus. Sebelnya kalo lagi dapat jadwal kuliah pagi mau gak mau harus berangkat dari rumah sebelum matahari terbit kalo enggak mau telat. 

    Suara si abang masih teriak-teriak sambil memainkan pegas dan rem. Bangku di angkot ini sudah terisi beberapa orang. Ada anak sekolah yang sibuk dengan gadget ditangannya,  ada lelaki paruh baya yang sedang tertidur (nampaknya dia masih ngantuk),  dan ada dua orang Ibu-ibu, yang satu berseragam dinas hijau dan satunya berseragam batik. Serta saya yang sibuk memperhatikan mereka semua.  

    Si Ibu berseragam dinas sudah menunjukkan muka keselnya sambil sesekali melihat jam yang melingkar dipergelengan tangannya. Sepertinya beliau sedang diburu oleh waktu atau mungkin bete karna diberi harapan palsu oleh abang angkot yang katanya siap berangkat itu.  Ya beginilah nasib angkoters sering sekali di 'php-in' supir angkot macam abang ini dengan iming-iming "langsung jalan".

    Bagi sebagian orang kata - kata itu mungkin terdengar biasa namun,  bagi orang yang sedang diburu waktu kata itu seperti angin surga yang seolah menenangkan.  Tapi,  memang benar apa yang banyak dikatakan oleh kebanyakan orang 'terkadang apa yang kita bayangkan tak selalu sesuai dengan kenyataan'. 

    Kini angkot sudah mulai terisi penuh. Si Ibu berseragam dinas mulai geram dan bersuara.
"Masih lama bang?  Udah gerah nih! "
"Sabar bu,  kalau udah penuh juga langsung jalan kok. Kalau mau adem naik taksi aja, " jawab si Abang ketus. 
"Jalan mah jalan aja bang gak usah nunggu lama toh rejeki mah sudah diatur sama Tuhan.  Siapa tau nanti di jalan banyak yang naik." timpal si Ibu berseragam batik.  

    Akhirnya seorang penumpang naik dan berhasil membuat angkot ini penuh.  Si Abang langsung menancap gas dan melajukan mobil tanpa perasaan. Melewati jalanan ibukota yang mulai macet dengan kecepatan yang cukup tinggi sehingga membuat ia harus menekan tombol remnya. Sontak membuat penumpang menggeleng-gelengkan kepala dan beristighfar. Saya jadi teringat kata Lia saat saya pulang bareng dia beberapa hari lalu dengan kondisi abang angkot seperti ini ia berkata "kalau ada Ibu hamil yang naik langsung lahir dah tuh bayi disini, " sindirnya. 

    Nah itulah dukanya jadi angkoters saat bertemu abang angkot macam ini.  Udah 'php',  bawa mobil kayak orang kesetanan,  dan suka naikin tarif sesukanya dengan alasan "bensin aja naik".

Sumber: google

Selasa, 24 Januari 2017

[ Di Kota Ini]




Yeaaaaay akhirnya nulis lagi setelah dua tahun vakum,  semoga dengan gabung dikomunitas ini kedepannya akan konsisten nulis meski #1minggu1cerita 😄

*******************

      Ada semerbak rindu yang ku hirup saat mendengarkanmu bercerita tentang kota kelahiranmu dan kelahirannya. Matamu berbinar sambil sesekali mengingat kejadian kecil yang mungkin sudah kau lupa. Dengan khidmat kau bercerita tentang hijaunya sawah di halaman rumah, sejuknya pagi di atas bukit sampai asyiknya menyeruput es dawet hitam di depan sekolahmu. Bibirku mengecap membayangkan ada segelas dawet hitam dihadapanku. 
     
     Kau terus bercerita, tentang awal pertemuanmu dengannya. Di alun  alun kota, dibawah gemuruh petasan yang meledup  ledup. Ia menyapamu dengan senyuman manisnya, kau balas sapaannya kemudian berlanjut ke pertemuan-pertemuan berikutnya. Beberapa kali dia mengajakmu bersepeda ontel mengelilingi kota kecil ini. Menghirup udara pagi atau sekedar menikmati senja di gedung tua dipinggir jalan. 

      Kau menarik nafas untuk menahan tangis kerinduan. Aku menggenggam tanganmu mencoba menguatkan. Hingga kau kembali bercerita tentang keseruan menangkap jangkrik di sawah, dan lelahnya menumbuk padi. 
"Apa aku bisa mencobanya nanti saat aku berkunjung kesana?" tanyaku
"Tentu saja," jawabnya seraya tersenyum

      Kau mengatakan bahwa gedung sekolah disamping rumah si mbah dulunya adalah hutan. Tempat kau dan adik-adikmu mencari kayu untuk memasak. Serta beberapa tempat yang kini sudah berubah menjadi tempat lain. 
"Dulu warung disini bisa dihitung jari, bahkan sangat langka. Sekarang, supermarket sudah menjamur hampir disepanjang jalan," jelasmu yang baru lima bulan lalu kesana. 

       Mendengarmu bercerita membuatku tak sabar untuk berkunjung lagi kesana. Ke rempat dimana kau dan dia dibesarkan, bertemu dan akhirnya mengikat janji setia. Tempat dimana kenangan  kenangan manis tercipta. Ya, kota ini! Kota kecil dengan berjuta cerita. Kota ini selalu berhasil membuatku rindu. Rindu menikmati segelas teh hangat ditemani geplak yang konon adalah salah satu makanan khas kota ini. Rindu berkunjung ke museum kereta api untuk berburu sunset. Rindu akan keindahan alamnya, keramahan penduduknya dan kelezatan makanannya.


Minggu, 22 Januari 2017

Kembali ~


Aku mencoba untuk melupakannya, melenyapkan semua mimpi serta citaku.
Tak ku rubis lagi revolusi-revolusi yang kubuat tentangnya.  Ku sibukkan diriku dengan hal lain, aku benar-benar ingin lupa!
Hingga suatu hari,  perhatianku kembali tertuju kepadanya,  ingatanku berputar saat aku masih membersamainya,  ku lihat,  ku baca dan menghadirkan secuil senyum dibibirku "Aku rindu, " desahku lirih. Aku rindu kebersamaanku dengannya. Sudah cukup banyak waktu yang ku lalai bersamanya.  Senang,  sedih,  jatuh cinta, patah hati, lalu bangkit kembali ku tuangkan lewatnya. Kini ketika aku kembali membuka catatan-catatan kecilku di facebook,  membuat dinding kekuatanku hancur.
"Segitu sajakah perjuanganmu? Sebegitu menyerahkah dirimu?Ku mohon, kembalilah! Kembali bersamaku, menghabiskan waktumu denganku, " tulisan - tulisan itu seakan memintaku kembali.
"Bisakah aku kembali?  Dapatkah aku menulis lagi?" pikirku sedikit ragu
"Ya,  kamu pasti bisa!" kini tulisan itu seolah menyemangatiku.
Akhirnya di awal tahun ini aku kembali.  Kembali menemukan semangatku yang hilang.  Kembali merasakan jatuh cinta,  ya jatuh cinta dengan hobi lamaku.  Semoga semangat ini tak lagi hilang, semoga aku dapat terus membersamaimu meski satu minggu sekali!

Senin, 11 Agustus 2014

Believe Your Self


                                                   Banyak kita jumpai dan kita dengar para remaja atau bahkan teman sejawat kita yang selalu merasa putus asa. Merasa dunia ini tidak adil. Merasa dirinya tak berguna. Padahal setiap manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda satu dengan yang lain. Misalnya; Si A dia sangat ahli dibidang komunikasi namun dia kurang ahli dibidang masak memasak. Hadirlah Si B dia sangat ahli dibidang masak memasak sampai akhirnya ia bercita-cita untuk membuat restoran sederhana tapi, dia agak pendiam sehingga ia butuh orang yang pandai berkomunikasi untuk mengajarinya. Ya, begitulah hidup. Saling melengkapi. Coba bayangkan jika semua orang memiliki keahlian yang sama dan kekurangan yang sama?. Dunia ini tidak akan terasa indah. Alasan mendasar yang membuat seseorang putus asa adalah kurangnya rasa kepercayadirian. Merasa minder dan takut untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.
                                                    Kenapa rasa kepercayadirian itu begitu kurang? Kurangnya rasa kepercayadirian disebabkan oleh ketidak yakinan akan kemampuan yang kita miliki dalam diri kita. Kurangnya motivasi dalam diri sendiri. Motivasi dalam diri sendiri merupakan salah satu hal yang sangat berpengaruh dalam perkembangan dan kesuksesan seseorang. Jika kita terbiasa memotivasi diri dengan hal-hal yang positif, otak dan tubuh kita juga akan melakukan hal yang positif. Dengan begitu kita juga akan mendapatkan hasil yang positif. 
                                                  Selain itu, kita juga perlu berkomunikasi dengan orang lain. Berteman dengan banyak orang. Atau gabung dalam organisasi. Aktif dalam berorganisasi juga dapat meningkatkan rasa kepercayadirian seseorang. Membuat kita lebih pede berkomunikasi di depan umum. Selain itu dengan berorganisasi kita bisa dapat masukan dan dukungan dari teman-teman. Sehingga, rasa minder itu lama kelamaan akan berkurang.

Jadi, gak usah takut atau cemas jika kita merasa kurang minder. Karena rasa minder itu dapat diatasi dengan rasa keyakinan dalam diri sendiri, bergabung dengan sebuah organisasi, dan selalu berfikir positif.


Jakarta, 11 Agustus 2014

Sabtu, 02 Agustus 2014

Inilah Pilihanku



                                          Bicara tentang mimpi sama halnya bicara tentang harapan. Ya, harapan. Semua orang di dunia ini tak ada satupun yang tak pernah bermimpi, bercita-cita, dan berharap akan sesuatu. Tapi, tak jarang orang yang mau memperjuangkan mimpinya, cita-citanya, dan harapannya. Mungkin bagi sebagian orang mimpi adalah pemanis dan bunga tidur saja. Mereka terlalu takut untuk mewujudkan dan memperjuangkan mimpinya. Padahal mimpi adalah the power of life. Bagiku mimpi adalah kompas yang akan memanduku untuk mencapai tujuan hidup. Dengan mimpi kita bebas berimajinasi, mengkhayal tentang masa depan kita. Mimpi adalah penyemangat. Penguat saat kita lelah menjalani kehidupan ini.

                                         Awalnya aku memang seorang yang takut untuk bermimpi. Takut apa yang aku inginkan dan aku impikan tak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Pernah terlintas dibenakku apakah pantas aku bermimpi? Toh tanpa mimpi hidupku tetaplah seperti ini. Banyak juga orang yang mengejekku. “Sudahlah jangan terlalu banyak bermimpi! Nanti kalau gak sesuai kenyataan kamu sendiri yang akan sakit,” ucapnya sambil tertawa. Sempat aku membenarkan ucapan itu dan berfikir kalau aku terlalu berharap akan mimpi yang belum pasti terwujud. Namun, ternyata pemikiranku salah. Mimpi adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk tetap ditempat atau beranjak ke tempat yang lebih baik. Orang yang mempunyai mimpi besar sangat jauh berbeda dengan orang yang tak mempunyai mimpi. Dengan adanya mimpi orang akan lebih bersemangat meraih cita-citanya. Lebih kuat menjalani hidupnya. Lebih tegar saat dunia menjatuhkannya. Mereka selalu percaya tak ada hal yang sia-sia. Bukankah Allah sudah menjanjikan. Tak akan berubah nasib seseorang jika kita tak merubahnya. Ya, begitu juga dengan mimpi. Mimpi adalah pilihan. Pilihan untuk tetap bermimpi saja atau berjuang untuk mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan. Aku akan buktikan pada dunia bahwa mimpi bukan hanya sekedar angan-angan saja. Bukan harapan kosong belaka. Aku akan berjuang dan buktikan suatu saat nanti mimpiku akan menjadi kenyataan.