Sabtu, 01 April 2017

Make Your Self Better Than Yesterday

Apa yang kita lakukan hari ini adalah hasil keputusan kita kemarin ~

Kita tak pernah tau akan jadi apa kita dikemudian hari. Berada dimana kita nanti. Dan dengan siapa kita akan bertemu. Sama halnya saya. Saya tak pernah menyangka bisa berada disini. Di tengah wanita-wanita hebat seperti mereka. Ya hebat! Mereka yang dengan mudah menjaga pandangan dan dirinya dari apa yang tidak dihalalkan baginya. Mereka yang dengan indah melantunkan ayat-ayatNya. Mereka yang selalu menjaga hubungannya dengan semesta dan penciptaNya. Saat pertama kali melihat mereka jiwa ini terasa tentram. Pakaian ketaqwaan yang begitu santun dan sederhana telah berhasil menyedot perhatiaan saya.

"Kamu gak gerah apa pake jilbab sepanjang itu?" Tanya saya pada salah seorang teman yang sudah terlebih dahulu berjilbab syar'i. Dia juga yang sudah membantu saya memperbaiki diri hingga kini.

"Lebih baik panas di dunia daripada harus merasakan panasnya api neraka," jawaban yang membuat bulu kuduk saya seketika berdiri.

Awal saya berjilbab yaitu saat saya duduk di kelas 2 SMK. Saat SMK dulu hampir teman sekelas saya mengenakan jilbab. Saya sangat senang sekali melihat mereka yang tubuhnya berbalut jilbab. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk berjilbab. Jilbab yang saya kenakan dulu belum sepanjang sekarang tapi saya tetap konsisten untuk memakainya baik di rumah maupun di luar rumah. Hari-hari panjang telah saya lewati, kekecewaan dan penyesalan akan masa lalu berhasil membuat saya sadar bahwa tiada sandaran selain Allah. Saya merasa malu sama Allah, karna begitu banyak dosa yang saya perbuat tapi, Allah begitu baik kepada saya. Dari sanalah saya meyakinkan hati untuk lebih dekat denganNya, berusaha menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Meski terkadang godaan terus menghampiri, cercaan dan cibiran menyelimuti.

"Namanya juga hidup, ada aja orang yang mengomentari sekalipun kita sudah berbuat baik," pikirku

Hidup untuk yang Maha hidup tak peduli apa komentar orang terhadapmu. Bukankah penilaian Allah lebih penting daripada penilaian manusia?

Let's walk together to jannah.



Allah memang Maha Baik. Ia memperkenalkan saya dengan orang-orang yang memiliki satu misi dan visi dengan saya yaitu sama-sama ingin 'berubah' ke jalan yang Allah ridhoi. Kita sama-sama belajar, saling ingat mengingatkan dalam kebaikan dan menasehati dengan kesabaran. MasyaAllah saya jadi tambah malu sama Allah dengan begitu banyaknya karunia yang diberikan.

"Rejeki tidak melulu tentang uang, dipertemukan dengan sahabat-sahabat sholiha juga merupakan rejeki karna bisa jadi tangan merekalah yang akan menarik kita ke surgaNya kelak," ujar salah seorang sahabat saya.

Jika kamu ingin berubah menjadi manusia yang lebih baik maka langkah awal yang harus kamu tempuh adalah memilih teman yang baik.
Seperti pepatah bilang 'jika kita berteman dengan penjual minyak wangi maka kita akan terkena wanginya, pun jika kita berteman dengan tukang pemanas besi maka kita akan terkena panasnya.'

Berteman memang boleh dengan siapa saja tapi pandai - pandailah dalam memilih sahabat. Carilah sahabat yang senantiasa mengingatkan dalam kebaikan.



Minggu, 19 Maret 2017

Kita Abadi



(Gambar: google)


Yang fana adalah waktu

Kita abadi

------------------------------------------------------------------------------
Puisi sapardi diatas mengingatkanku tentang waktu, waktu yang bergulir begitu cepat tanpa kita sadari. Sadarkah bahwa bumi berputar semakin lambat? Waktu seminggu berlalu seperti sehari. Baru kemarin rasanya saya melihat euphoria mereka yang tengah menghabiskan malam pergantian tahun dengan tiupan terompet dan letupan kembang api. Namun kini, bulan maret pun akan segera beranjak meninggalkan kita. Apa hanya saya yang merasa demikian?

Sejatinya manusia hidup abadi. Kematian datang bukan untuk mengakhiri hidup kita melainkan sebagai jalan menuju kehidupan kita yang sebenarnya. Lantas, apa yang telah kita persiapkan untuk menyambutnya? Sudah cukupkah bekal yang kita bawa untuk menjawab setiap pertanyaan yang telah disiapkan?

Kematian adalah pengingat terbaik bagi manusia. Bagaimana tidak , orang yang terlihat sehat bisa tiba – tiba meninggal. Orang yang awalnya sehat bisa mendadak sakit. Orang yang tubuhnya kuat bisa saja sekejap melemah. Ya, itulah kematian tidak memandang umur, sehat atau tidak sehat, cantik atau tidak, kalau memang sudah saatnya maka ia akan datang.

Beberapa minggu lalu, saya mendapat kabar bahwa salah seorang teman di bangku SMA terkena penyakit yang cukup serius. Perempuan yang saya kenal ceria, sehat wal afiat tiba-tiba terbaring lemah di rumah. Langkah kakinya yang dulu gesit kini tak dapat di gerakan. Badan yang tadinya berisi mendadak kurus. Itulah takdir. Kita tidak akan tau kapan sakit itu akan menyerang kita. Sekalipun pola hidup sehat telah dijalankan jika memang Allah mentakdirkan kita untuk sakit lalu kita bisa apa?

Seringkali kita dibuat terlena oleh dunia, hingga akhirat pun terlupa. Padahal jelas hidup kita di dunia hanya persinggahan. Waktu 1000 tahun di dunia hanya bernilai 1 hari di akhirat. Kesibukkan terkadang begitu menyita perhatian kita. Bekerja dari pagi sampai malam kita korbankan demi mencukupi kehidupan kita. Untuk mencukupi kehidupan atau untuk menang gengsi? Entahlah hanya diri sendiri dan Tuhan yang tau. Begitulah dunia, jika kita tidak dapat mengendalikannya maka kita yang akan dikendalikan olehnya.


Banyaklah mengingat kematian
Sebab, waktu adalah fana.
Kita abadi bukan?



Sabtu, 11 Maret 2017

Arti Sebuah Nama

Waktu kecil dulu, kita pasti sering mengajukan pertanyaan kepada orang tua kita atau orang dewasa lain yang kita temui. Mulai dari menanyakan nama benda, hewan, tumbuhan dan apapun yang kita lihat. Rasa ingin tau itu begitu besar sampai-sampai terkadang orang yang kita tanyakan malas untuk menjawabnya. Saya jadi teringat oleh pertanyaan saya waktu masih di bangku sekolah dasar.

Waktu itu saya melihat mobil ambulance terparkir di depan sekolah. Saya yang saat itu pertama kali melihat mobil ambulance, langsung fokus melihat detail mobil itu. Dari situ saya melihat tulisan di depan ambulance yang ditulis terbalik. Sontak saya pun langsung bertanya kepada Ayah yang kebetulan sedang mengantar saya ke sekolah. 
"Yah, kok tulisan di mobil ambulance itu terbalik sih?" tanya saya penasaran. 
"Tulisan di mobil ambulance memang sengaja dibuat terbalik agar jika dilihat dari kaca spion tulisannya dapat dibaca dengan mudah," jelas Ayah.
"Masa sih Yah?" Aku masih belum percaya
"Ayo sini kita buktikan kalau kamu masih belum percaya" ajak Ayah. Akhirnya Ayah mengajak saya untuk melihat ke kaca spion Ayah. Ternyata benar jika di lihat dari kaca spion maka tulisan ambulance yang tadi terbalik dapat dibaca jelas.

Dari situ saya mengerti bahwa pemberian nama pada suatu benda,  tumbuhan,  hewan bahkan manusia memiliki arti penting baik secara tersirat maupun tersurat.

Saat di bangku SMP kita juga pernah mempelajari tentang klasifikasi tumbuhan dan hewan. Bagaimana cara memberikan nama pada tumbuhan dan hewan,  apa arti nama yang diberikan, dan apa bahasa latinnya atau bahasa ilmiahnya yang sering kali membuat lidah terpeleset saat menyebutkannya. Seperti: Artocarpus heterophyllus (Nangka).  Nama nangka yang begitu mudah kita ucapkan mengapa harus memiliki nama ilmiah yang susah? Ternyata eh ternyata pemberian nama pada tumbuhan dan hewan bukan hanya asal-asalan semata.

Pemberian nama pada tumbuhan dan hewan dilihat dari jenis,  ciri, dan habitatnya.  Atau bisa juga  berdasarkan urutan taksonnya seperti kingdom,  divisi,  kelas,  ordo,  famili,  genus dan spesies. Sebuah nama adalah gambaran dari diri kita sehingga orang lain dengan mudah mengidentifikasinya.  Misalnya pada tumbuhan, saat kita menyebutkan padi pasti orang bisa langsung menembak dan menyebutkan ciri-ciri tumbuhan padi. Pun pada manusia, mengapa manusia harus memiliki nama karna manusia itu "unik" berbeda satu dengan yang lainnya bahkan anak yang terlahir kembar pun tidak akan sama.

Pemberian nama pada manusia juga didasarkan dari jenis kelamin misalnya untuk anak perempuan biasanya menggunakan nama-nama yang menunjukkan kelembutan, cantik, dan anggun seperti nama bunga (mawar, melati, anggrek dan lain-lain), atau nama ratu terkemuka (Balqis, Elizabeth dll). Sedangkan untuk nama anak laki-laki biasanya menggunakan nama yang gagah, keren dan kelakian bang7et misalnya (Guntur, Bagaskoro, Perkoso dll). Tapi, tak jarang juga ada anak laki-laki yang menggunakan nama anak perempuan seperti Nurul, Eka, Afriyana dll. 

Selain untuk mengidentifikasi,  nama juga merupakan doa dan harapan.  Setiap orang tua, keluarga bahkan kerabat pasti memiliki harapan untuk memberikan nama yang baik bagi anak-anaknya. Karna bisa jadi lewat nama tersebut doa dan harapan orang tua dapat tercapai. 







Rabu, 01 Maret 2017

Matematika itu menyenangkan


Hujan akhir-akhir ini senang bermain di langit Jakarta.  Dari intensitas kecil,  sedang  sampai besar.  Dari pagi,  siang,  sore hingga malam. Membuat saya terkadang malas beranjak dari tempat tidur. Seperti hari ini misalnya,  sampai jam tujuh pagi saya masih betah berbaring di tempat tidur, padahal jam sembilan nanti saya sudah harus sampai di tempat kerja.  Akhirnya pukul 08.00 saya segera bersiap-siap untuk bekerja.  

"Hujan bukan alasan untuk bermalas-malasan!" batin saya menyemangati diri.

Saya suka hujan.  Bau tanah basah sehabis hujan, butir air yang menempel di dedaunan setelah hujan dan semua hal mengenai hujan begitu menyenangkan bagi saya.  Setelah semua rapi, saya langsung bergegas pergi dengan payung ungu yang siap menemani saya menembus gerimis manis pagi ini. Sesampainya saya ditempat kerja,  saya langsung disambut oleh senyuman adik-adik kecil yang sudah semangat untuk menuntut ilmu.

"Hari ini kita belajar apa kak?" tanya Mawar bersemangat 

"Apa yaa?  Kalian maunya apa?" aku kembali bertanya.  

"Jangan matematika yaa ka please!" pinta Dino yang kini sudah duduk di kelas tiga sekolah dasar. 

"Memangnya kenapa dengan matematika?  Seru loh belajar matematika,  iyaa kan adik-adik?" 

"Tidaaaaaakkk!!!" jawab mereka

"Matematika itu susah ka aku gak suka," Dino kembali berkomentar

Hampir semua orang sepertinya sangat anti dengan pelajaran matematika.  Mereka selalu beranggapan bahwa matematika 'Momok' yang menakutkan sampai-sampai ada yang rela melanjutkan pendidikan ke jurusan yang tidak ada pelajaran matematikanya.  Namun,  bagi saya matematika itu menyenangkan.  Ada kepuasan tersendiri saat berhasil memecahkan soal matematika.  Meskipun awalnya bikin pusing tapi saat menemukan jawaban yang benar saya akan merasa sangat bahagia.  Seorang teman pernah bercerita kepada saya,  saat dia sedang pusing dia memilih untuk mengerjakan soal matematika hal itu sangat ampuh untuk menghilangkan kepusingannya.  

"Matematika itu gampang kok,  asalkan kita senantiasa berlatih dan fokus.  Oh ya kakak ada cerita nih mengenai matematika ada yang mau mendengarkan?" 

"Mau...mau...mau, " jawab mereka kompak 

"Oke.. Jadi,  dulu ada teman kakak yang benci banget sama pelajaran matematika sampai-sampai nilai matematikanya paling jelek di kelas, " saya mulai bercerita 

"Akhirnya wali kelas kakak memanggilnya ke kantor dan menanyakan perihal nilai ulangannya yang jelek. Kenapa nilai matematika kamu selalu jelek Frans?  Tanya wali kelas kakak.  Matematika itu susah Bu,  saya sudah coba mencari jawabannya tapi tidak pernah berhasil,"

"Bukan pelajarannya yang susah tapi,  kita saa yang selalu beranggapan bahwa pelajaran matematika itu susah.  Sehingga yang terekam dipikiran kita bahwa matematika itu susah, "

"Jadi,  mulai sekarang coba kamu ubah sudut pandangmu tentang matematika.  Kamu anggap saja bahwa matematika itu menyenangkan.  Sambil kamu terus berlatih mengerjakan soal.  Sebab,  matematika itu perlu banyak latihan.  Seperti halnya seorang pembalap,  agar jadi pembalap yang profesional mereka juga senantiasa berlatih bukan?" Ibu wali kelas saya mencoba menyarankan.

"Terus akhirnya gimana kak?" tanya Frans penasaran. 

"Akhirnya teman kakak menuruti perkataan wali kelas kakak.  Dia mulai berusaha menyukai matematika dan tekun belajar.  Alhasil saat ujian dia mendapatkan nilai tertinggi di kelas," lanjut saya 

"Waaaah keren yaaa temen kakak!  Aku jadi mau kayak temen kakak,  berarti aku harus menyukai matematika ya ka?" tanya Dino

"Iya kalian harus menyukai semua mata pelajaran agar kalian lebih mudah mempelajarinya," saya menjelaskan. 

"jadi gimana,  sudah siap belajar matematika hari ini?" tanya saya

"Siaaaaaappp kakak!" jawab mereka bersemangat

Kita memang tidak bisa memaksa anak - anak untuk menyukai apa yang dia tidak suka karna manusia itu unik dan punya kelebihan masing-masing.  Namun,  tak ada salahnya jika kita memberi mereka pemahaman untuk selalu berpikir positif dalam segala hal.  Salah satunya berpikir positif bahwa pelajaran matematika itu menyenangkan. 


Rabu, 22 Februari 2017

Memahami Sabar





"Sabarlah dengan sebaik-baiknya sabar," Ucapmu yang selalu terngiang dipikiranku.  Menemani langkahku yang terkadang mulai bengkok.

Aku kembali mendengar kata "sabar" dan kau adalah orang yang kesekian kalinya yang mengingatkanku tentang sabar disaat bahkan disetiap musibah yang aku alami.  Seperti halnya hari ini saat aku tetiba lupa menaruh ponselku hingga akhirnya ponsel itu lenyap dari genggamanku.

"Sabar ya Git,  kalau emang rejeki pasti balik lagi kok," ucapmu mencoba menenangkan.  Awalnya aku muak dengan kata sabar,  bisakah kalian mengucapkan kata lain selain sabar.  Aku tau, aku mesti sabar menerima semuanya tanpa harus kalian beritahu.
Ah,  adakah kata manis dan menenangkan selain kata sabar? Hingga suatu waktu kamu datang menemuiku dan membuka pikiranku tentang makna sabar sesungguhnya.

"Fashbir Shabron Jamila," katamu yang kala itu menemuiku saat aku sedang benar-benar terpuruk.  Terombang ambing oleh perasaan kecewa,  sedih,  dan kebencian.

"Aku udah sabar banget Din tapi,  kenapa Allah selalu mengujiku." ujarku
"Sabar itu gak ada batasnya Git. Allah menguji kamu karna Allah tau kamu bakalan kuat menghadapinya," jelas Dina
"Sama halnya kamu sekolah.  Enggak mungkinkan guru kamu ngasih soal ujian kelas 10 padahal kamu sendiri masih duduk dibangku SMP." lanjutnya.

Aku mencerna setiap kata yang terucap dari mulutnya sambil sesekali beristighfar memohon ampun kepada Allah.

"Nah, apalagi Allah.  DIA gak akan pernah salah memberikan ujian bagi hambanya. Bukankah ujian juga merupakan salah satu bukti CintaNya?"

Hatiku kembali luluh mendengar ucapannya yang begitu tenang dan mendamaikan. Kamu benar, aku harus banyak memahami sebuah kata.  Salah- satunya memahami makna sabar yang sesungguhnya.  Karna jika kita telaah lebih jauh, sabar bukan hanya ungkapan dari  penerimaan semata, bukan pula kemampuan untuk menahan emosi.

Sabar berarti kita yakin bahwa Allah tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuan hambanya.  Sabar, meneguhkan hati kita bahwa di setiap kesusahan pasti ada kemudahan.  Sabar, menyakinkan kita bahwa semua berasal dariNya dan akan kembali kepadaNya.  Dan sabar senantiasa mengingatkan kita bahwa apa yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik menurutNya. 


Selasa, 07 Februari 2017

M A A F


Nad,  hari ini adalah hari kesepuluh aku melepasmu.Tatap kosong matamu masih teringat jelas dipikiranku. Raut wajah kekecewaanmu pun masih menghantui malam-malamku. Salahkah aku melepasmu? Hingga kini pikiranku masih selalu tentangmu. 
Meski terkadang logika kembali menyadarkanku bahwa ini adalah keputusan besarku. 


Nad,  ku tau kau akan sangat membenciku, mencaciku dan menganggapku jahat. Aku akan terima semua kekecewaan serta kemarahanmu asal kau dapat bahagia. Ya,  bahagia dengan hidup barumu tanpaku.

Nad,  maafkan aku yang belum bisa menjadikanmu satu-satunya wanita yang bersemayam dihatiku karna aku pun tak mau durhaka kepada ibuku.Bukankah Rasul menganjurkan kita untuk berbakti kepada ibu?  Jadi ku mohon maafkanlah aku. 


Maafkanlah aku yang belum mampu menjadikanmu bidadari dihidupku, mengajarimu banyak ilmu serta menghalalkanmu.  Aku tau aku pengecut. Bahkan untuk berhadapan dengan ayahmu pun aku tak berani. Oleh sebab itu,  biarkanlah aku pergi. 


Nad,  ku tau kau adalah gadis yang tegar.Semangatmu pun selalu menyegarkan. Kau selalu berpesan untuk selalu memaafkan bukan? Katamu memaafkan lebih mudah daripada menerima.  Kini,  ku mohon kau dapat memaafkan serta menerima. Menerima bahwa tak selamanya apa yang kau inginkan dapat kau dapatkan.Menerima bahwa takdir bukan sebuah kebetulan. Menerima bahwa disetiap pertemuan pasti ada perpisahan. 


Begitulah Nad,  aku ingin kau bahagia dengan hati yang damai dan penuh keikhlasan. Aku disini akan selalu mendoakan dan belajar.Semoga kelak jika Tuhan ijinkan kita kembali bersama kau takkan ku kecewakan. Tapi,  jika ternyata takdir tidak menyiratkan maka ku harap kita akan sama-sama bahagia dengan apa yang telah disuratkan.  


Jakarta,  08 Februari 2017
 



Rabu, 01 Februari 2017

Suka Duka Angkoters

"Ayo neng langsung berangkat! " teriak salah satu supir angkot yang sedang ngetem di sekitar terminal. Saya pun masuk ke dalam angkot tersebut.  Nasib punya rumah yang lumayan jauh dari kampus membuat saya harus naik angkot tiga kali untuk sampe ke kampus. Sebelnya kalo lagi dapat jadwal kuliah pagi mau gak mau harus berangkat dari rumah sebelum matahari terbit kalo enggak mau telat. 

    Suara si abang masih teriak-teriak sambil memainkan pegas dan rem. Bangku di angkot ini sudah terisi beberapa orang. Ada anak sekolah yang sibuk dengan gadget ditangannya,  ada lelaki paruh baya yang sedang tertidur (nampaknya dia masih ngantuk),  dan ada dua orang Ibu-ibu, yang satu berseragam dinas hijau dan satunya berseragam batik. Serta saya yang sibuk memperhatikan mereka semua.  

    Si Ibu berseragam dinas sudah menunjukkan muka keselnya sambil sesekali melihat jam yang melingkar dipergelengan tangannya. Sepertinya beliau sedang diburu oleh waktu atau mungkin bete karna diberi harapan palsu oleh abang angkot yang katanya siap berangkat itu.  Ya beginilah nasib angkoters sering sekali di 'php-in' supir angkot macam abang ini dengan iming-iming "langsung jalan".

    Bagi sebagian orang kata - kata itu mungkin terdengar biasa namun,  bagi orang yang sedang diburu waktu kata itu seperti angin surga yang seolah menenangkan.  Tapi,  memang benar apa yang banyak dikatakan oleh kebanyakan orang 'terkadang apa yang kita bayangkan tak selalu sesuai dengan kenyataan'. 

    Kini angkot sudah mulai terisi penuh. Si Ibu berseragam dinas mulai geram dan bersuara.
"Masih lama bang?  Udah gerah nih! "
"Sabar bu,  kalau udah penuh juga langsung jalan kok. Kalau mau adem naik taksi aja, " jawab si Abang ketus. 
"Jalan mah jalan aja bang gak usah nunggu lama toh rejeki mah sudah diatur sama Tuhan.  Siapa tau nanti di jalan banyak yang naik." timpal si Ibu berseragam batik.  

    Akhirnya seorang penumpang naik dan berhasil membuat angkot ini penuh.  Si Abang langsung menancap gas dan melajukan mobil tanpa perasaan. Melewati jalanan ibukota yang mulai macet dengan kecepatan yang cukup tinggi sehingga membuat ia harus menekan tombol remnya. Sontak membuat penumpang menggeleng-gelengkan kepala dan beristighfar. Saya jadi teringat kata Lia saat saya pulang bareng dia beberapa hari lalu dengan kondisi abang angkot seperti ini ia berkata "kalau ada Ibu hamil yang naik langsung lahir dah tuh bayi disini, " sindirnya. 

    Nah itulah dukanya jadi angkoters saat bertemu abang angkot macam ini.  Udah 'php',  bawa mobil kayak orang kesetanan,  dan suka naikin tarif sesukanya dengan alasan "bensin aja naik".

Sumber: google