Sabtu, 22 Februari 2014

Keputusan Akhir

Sekuat apapun kita menggenggamnya, jika Allah berkata lain genggaman itu pasti akan lepas. Begitu dengan aku dan kau. Sekuat apapun kita mencintai, namun jika Allah tak mentakdirkan kita bersatu, kita juga akan terpisah.

***

Malam minggu bagiku sama seperti malam-malam lainnya. Gak ada yang special. Gak ada yang menjemputku keluar rumah untuk sekedar melihat keindahan kota jakarta dimalam hari. Atau sekedar menemaniku nonton drama korea di rumah. Tidak punya pacar? hmm kata siapa? Kalau yang disebut pacar adalah temen cowok yang setia menemani kita kapan pun, menjemput kita saat kita pulang kerja, atau bahkan bersms dan bertelepon mesra. Itu tandanya aku punya. Yah, walaupun aku dan dia tidak menyandang status pacaran tapi hubungan kami sudah terasa dekat. Rakha. Itulah namanya. Nama yang tak pernah absen muncul di panggilan masuk ponselku. Nama yang selalu ku sebut saat aku bercerita dengan Tuhan. Sudah hampir dua tahun aku dan dia saling berbagi cerita meski lewat telepon genggam. Ya, hanya lewat telepon genggam. Rakha teman SMA ku itu sedang melanjutkan studinya di salah satu universitas negeri di Surabaya. Sedangkan aku, memilih untuk tetap melanjutkan studi di tempat kelahiranku jakarta. Sehingga kami harus menjalani hubungan jarak jauh atau bahasa kerennya LDR (Long Distance Realitonship). Meskipun kami hanya menjalin hubungan jarak jauh. Rakha selalu berusaha untuk selalu memperbaiki komunikasi diantara kita karena menurutnya komunikasu adalah kunci terpenting dalam sebuah hubungan. Setiap malam sebelum tidur dia selalu menyempatkan untuk bercerita. Ya, cerita apa saya yang bermanfaat pastinya. Aku selalu setia mendengarkan ceritanya, terkadang aku juga sering bercerita tentang kegiatan yang ku lakukan dari pagi sampai malam. Walaupun tak pernah terucap kata darinya "mau gak kamu jadi pacarku?" aku tak peduli. Aku akan tetap sayang sama dia begitupun sebaliknya.

Pada suatu malam di bulan juni. Dia kembali meneleponku. Dia mengutarakan niatnya kepadaku.

"Num, nanti kalau sekolahku sudah selesai. Aku ingin melamarmu." Aku tak bisa berkata apa-apa. Perkataannya malam itu membuat aku bahagia sekali. Ingin rasanya waktu ku putar cepat. Agar aku bisa cepat menjadi kekasih halalnya. Menjadi sesorang yang ada disampingnya saat ia membuka mata.

Hari terus berganti. Waktu berjalan terasa cepat. Tidak terasa kini aku sudah duduk di semester enam. Itu berarti setahun lagi studiku akan selesai begitu juga dengannya. Aku jadi semakin tak sabar menanti. Tapi, akhir-akhir ini aku merasa ada sesuatu yang berubah darinya. Ia jadi jarang menghubungiku. Biasanya ia selalu mengirimkan pesan setiap pagi namun, kini ia hanya menelponku saat malam tiba.

"Mungkin dia lagi sibuk." pikirku positif.

Seminggu lagi liburan semester akan dimulai. Aku berencana untuk mengunjunginya . Tanpa memberitahu dia sebelumnya karena aku ingin memberikan kejutan untuknya. Tapi, sehari sebelum keberangkatanku Ayah mengalami kecelakaan dan harus di rawat di rumah sakit. Alhasil aku membatalkan keberangkatanku ke surabaya.

Seminggu sudah Ayah di rawat. Kini, Ayah sudah diperbolehkan pulang. Aku senang sekali. Setibanya di rumah, Rakha menghubungiku. Dia menanyakan keadaan Ayah.

"Syukurlah aku ikut senang."ucapnya "Num," panggilnya pelan.

"iya"
"Aku di jodohin sama Pak kiyai." Jleb. Jantungku terasa berdetak lebih cepat. Mataku memanas. Hatiku sakit seperti tertusuk pisau. Bagaimana mungkin hubungan yang sudah aku jalani dengannya selama dua tahun walau tanpa ikatan pacaran harus berakhir begitu saja. Kenapa dia tak menerangkan kepada Kiyainya itu kalau ada aku disini yang menantinya. Ada aku disini yang telah diberi harapan olehnya. Kenapa semua ini terjadi? kenapa harus terjadi di saat-saat waktu penantian itu akan berakhir. Inikah balasan penantianku? Air mataku mengalir deras. Aku hanya diam mengabaikan penjelasannya. Pikiranku kacau. Dadaku terasa sesak.

"Num, maafkan aku. Aku gak bisa menolak permintaan Pak Kiyai," tuturnya. "Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu, aku ingin kamu jadi istiriku tapi Allah telah memilihkan jalannya untukku." ujarnya terus "Aku yakin Tuhan punya sesuatu yang indah untukmu."
Ya Tuhan apakah ini keputusan akhirMu? Takdir yang kau tetapkan untukku? Rangkul aku Tuhan, bimbing jalanku. Aku yakin semua takdirMu baik untukku. Kuatkan aku Ya Rabb. Aku menangis mengadu kepada penulis skenario di kehidupanku. Setahun kemudian aku resmi lulus dari sekolahku dan resmi menyandang gelar Sarjana. Malam harinya, aku mendapatkan ucapan selamat dari Rakha melalui sms. Aku juga memberikan ucapan selamat kepadanya. Setelah kejadian waktu itu aku dan Rakha memutuskan untuk tetap bersahabat. Meskipun hatiku sakit namun aku mengerti bahwa apa yang kita inginkan tak selamanya akan terwujud. Jodoh, mati,rejeki semua sudah diatur dan telah tertulis dalam catatanNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar