Senin, 11 Agustus 2014

Believe Your Self


                                                   Banyak kita jumpai dan kita dengar para remaja atau bahkan teman sejawat kita yang selalu merasa putus asa. Merasa dunia ini tidak adil. Merasa dirinya tak berguna. Padahal setiap manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda satu dengan yang lain. Misalnya; Si A dia sangat ahli dibidang komunikasi namun dia kurang ahli dibidang masak memasak. Hadirlah Si B dia sangat ahli dibidang masak memasak sampai akhirnya ia bercita-cita untuk membuat restoran sederhana tapi, dia agak pendiam sehingga ia butuh orang yang pandai berkomunikasi untuk mengajarinya. Ya, begitulah hidup. Saling melengkapi. Coba bayangkan jika semua orang memiliki keahlian yang sama dan kekurangan yang sama?. Dunia ini tidak akan terasa indah. Alasan mendasar yang membuat seseorang putus asa adalah kurangnya rasa kepercayadirian. Merasa minder dan takut untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.
                                                    Kenapa rasa kepercayadirian itu begitu kurang? Kurangnya rasa kepercayadirian disebabkan oleh ketidak yakinan akan kemampuan yang kita miliki dalam diri kita. Kurangnya motivasi dalam diri sendiri. Motivasi dalam diri sendiri merupakan salah satu hal yang sangat berpengaruh dalam perkembangan dan kesuksesan seseorang. Jika kita terbiasa memotivasi diri dengan hal-hal yang positif, otak dan tubuh kita juga akan melakukan hal yang positif. Dengan begitu kita juga akan mendapatkan hasil yang positif. 
                                                  Selain itu, kita juga perlu berkomunikasi dengan orang lain. Berteman dengan banyak orang. Atau gabung dalam organisasi. Aktif dalam berorganisasi juga dapat meningkatkan rasa kepercayadirian seseorang. Membuat kita lebih pede berkomunikasi di depan umum. Selain itu dengan berorganisasi kita bisa dapat masukan dan dukungan dari teman-teman. Sehingga, rasa minder itu lama kelamaan akan berkurang.

Jadi, gak usah takut atau cemas jika kita merasa kurang minder. Karena rasa minder itu dapat diatasi dengan rasa keyakinan dalam diri sendiri, bergabung dengan sebuah organisasi, dan selalu berfikir positif.


Jakarta, 11 Agustus 2014

Sabtu, 02 Agustus 2014

Inilah Pilihanku



                                          Bicara tentang mimpi sama halnya bicara tentang harapan. Ya, harapan. Semua orang di dunia ini tak ada satupun yang tak pernah bermimpi, bercita-cita, dan berharap akan sesuatu. Tapi, tak jarang orang yang mau memperjuangkan mimpinya, cita-citanya, dan harapannya. Mungkin bagi sebagian orang mimpi adalah pemanis dan bunga tidur saja. Mereka terlalu takut untuk mewujudkan dan memperjuangkan mimpinya. Padahal mimpi adalah the power of life. Bagiku mimpi adalah kompas yang akan memanduku untuk mencapai tujuan hidup. Dengan mimpi kita bebas berimajinasi, mengkhayal tentang masa depan kita. Mimpi adalah penyemangat. Penguat saat kita lelah menjalani kehidupan ini.

                                         Awalnya aku memang seorang yang takut untuk bermimpi. Takut apa yang aku inginkan dan aku impikan tak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Pernah terlintas dibenakku apakah pantas aku bermimpi? Toh tanpa mimpi hidupku tetaplah seperti ini. Banyak juga orang yang mengejekku. “Sudahlah jangan terlalu banyak bermimpi! Nanti kalau gak sesuai kenyataan kamu sendiri yang akan sakit,” ucapnya sambil tertawa. Sempat aku membenarkan ucapan itu dan berfikir kalau aku terlalu berharap akan mimpi yang belum pasti terwujud. Namun, ternyata pemikiranku salah. Mimpi adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk tetap ditempat atau beranjak ke tempat yang lebih baik. Orang yang mempunyai mimpi besar sangat jauh berbeda dengan orang yang tak mempunyai mimpi. Dengan adanya mimpi orang akan lebih bersemangat meraih cita-citanya. Lebih kuat menjalani hidupnya. Lebih tegar saat dunia menjatuhkannya. Mereka selalu percaya tak ada hal yang sia-sia. Bukankah Allah sudah menjanjikan. Tak akan berubah nasib seseorang jika kita tak merubahnya. Ya, begitu juga dengan mimpi. Mimpi adalah pilihan. Pilihan untuk tetap bermimpi saja atau berjuang untuk mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan. Aku akan buktikan pada dunia bahwa mimpi bukan hanya sekedar angan-angan saja. Bukan harapan kosong belaka. Aku akan berjuang dan buktikan suatu saat nanti mimpiku akan menjadi kenyataan.