Nad, hari ini adalah hari kesepuluh aku melepasmu.Tatap kosong matamu masih teringat jelas dipikiranku. Raut wajah kekecewaanmu pun masih menghantui malam-malamku. Salahkah aku melepasmu? Hingga kini pikiranku masih selalu tentangmu.
Meski terkadang logika kembali menyadarkanku bahwa ini adalah keputusan besarku.
Nad, ku tau kau akan sangat membenciku, mencaciku dan menganggapku jahat. Aku akan terima semua kekecewaan serta kemarahanmu asal kau dapat bahagia. Ya, bahagia dengan hidup barumu tanpaku.
Nad, maafkan aku yang belum bisa menjadikanmu satu-satunya wanita yang bersemayam dihatiku karna aku pun tak mau durhaka kepada ibuku.Bukankah Rasul menganjurkan kita untuk berbakti kepada ibu? Jadi ku mohon maafkanlah aku.
Maafkanlah aku yang belum mampu menjadikanmu bidadari dihidupku, mengajarimu banyak ilmu serta menghalalkanmu. Aku tau aku pengecut. Bahkan untuk berhadapan dengan ayahmu pun aku tak berani. Oleh sebab itu, biarkanlah aku pergi.
Nad, ku tau kau adalah gadis yang tegar.Semangatmu pun selalu menyegarkan. Kau selalu berpesan untuk selalu memaafkan bukan? Katamu memaafkan lebih mudah daripada menerima. Kini, ku mohon kau dapat memaafkan serta menerima. Menerima bahwa tak selamanya apa yang kau inginkan dapat kau dapatkan.Menerima bahwa takdir bukan sebuah kebetulan. Menerima bahwa disetiap pertemuan pasti ada perpisahan.
Begitulah Nad, aku ingin kau bahagia dengan hati yang damai dan penuh keikhlasan. Aku disini akan selalu mendoakan dan belajar.Semoga kelak jika Tuhan ijinkan kita kembali bersama kau takkan ku kecewakan. Tapi, jika ternyata takdir tidak menyiratkan maka ku harap kita akan sama-sama bahagia dengan apa yang telah disuratkan.
Jakarta, 08 Februari 2017
Nad, hari ini adalah hari kesepuluh aku melepasmu.Tatap kosong matamu masih teringat jelas dipikiranku. Raut wajah kekecewaanmu pun masih menghantui malam-malamku. Salahkah aku melepasmu? Hingga kini pikiranku masih selalu tentangmu.
Meski terkadang logika kembali menyadarkanku bahwa ini adalah keputusan besarku.
Nad, ku tau kau akan sangat membenciku, mencaciku dan menganggapku jahat. Aku akan terima semua kekecewaan serta kemarahanmu asal kau dapat bahagia. Ya, bahagia dengan hidup barumu tanpaku.
Nad, maafkan aku yang belum bisa menjadikanmu satu-satunya wanita yang bersemayam dihatiku karna aku pun tak mau durhaka kepada ibuku.Bukankah Rasul menganjurkan kita untuk berbakti kepada ibu? Jadi ku mohon maafkanlah aku.
Maafkanlah aku yang belum mampu menjadikanmu bidadari dihidupku, mengajarimu banyak ilmu serta menghalalkanmu. Aku tau aku pengecut. Bahkan untuk berhadapan dengan ayahmu pun aku tak berani. Oleh sebab itu, biarkanlah aku pergi.
Nad, ku tau kau adalah gadis yang tegar.Semangatmu pun selalu menyegarkan. Kau selalu berpesan untuk selalu memaafkan bukan? Katamu memaafkan lebih mudah daripada menerima. Kini, ku mohon kau dapat memaafkan serta menerima. Menerima bahwa tak selamanya apa yang kau inginkan dapat kau dapatkan.Menerima bahwa takdir bukan sebuah kebetulan. Menerima bahwa disetiap pertemuan pasti ada perpisahan.
Begitulah Nad, aku ingin kau bahagia dengan hati yang damai dan penuh keikhlasan. Aku disini akan selalu mendoakan dan belajar.Semoga kelak jika Tuhan ijinkan kita kembali bersama kau takkan ku kecewakan. Tapi, jika ternyata takdir tidak menyiratkan maka ku harap kita akan sama-sama bahagia dengan apa yang telah disuratkan.


Maafkan Nad, demi malam malam yang telah berlalu
BalasHapusardentusstory.com
Oh, jd ternyata itu alasan mu meninggalkan Nad, hm..benar juga kamu tak pantas unt disalahkan. Salahkan takdir yang kemudian membuatmu tak bs bersama Nad.. ^_^
BalasHapusbarusan abis ngunjungi blognya Mbak Feriyana's Journey ttg maaf yang tertunda. Kemudian baca postingan nya mbak Citra ttg kata maaf.. sy sprti melihat dua cerita yang berkisah ttg dua orang yang sama, hahaha..efek kebanyak nonton korean drama kayaknya. Cerita nya keren
Sepertinya memang banyak yg mengalami hal yg mirip2 seperti ini mb...
HapusMakasih ka phadli dan ka samaratul Qalbi sudah berkunjung :) hehe iya ka aku pun kebanyakan nonton drama nih π³
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusHuwaaaa aku sedih membayangkan perasaan Nad
BalasHapusAku menangis..ππ
BalasHapusKalau saya jadi nad, pasti bilang "kamu jahat!".
BalasHapusTakan lari jodoh kemana. Biar waktu yg kan menjawabnya. Aku mengamini doa baik di akhir ceritanya yaa..
BalasHapusKalo saya Nad, saya akan bilang, "okelah...mungkin belum jodohnya. Lagian masih banyak pria lain" π
BalasHapus*lalu nangis di pojokan.
Bagus ceritanya, salam kenal ya π
-Tatat
yang sabar kak..
BalasHapussegala sesuatu yang terjadi pasti ada keindahan di baliknya..