Ia menyendiri di sudut ruang itu. Membiarkan waktu mengurungnya dalam syahdu. Dalam doa yang terus ia rapalkan, lewat alunan ayat-ayat Al Qur'an yang indah, bersama sajadah yang membentang. Hening, suaranya halus melebur bersama angin namun cukup kencang terdengar di langit. Rasa itu kembali datang, menjelma bersama angin, hujan, senja dan apapun yang ia suka. Kian lama kian membuncam, membuat pertahanannya hampir runtuh. Namun, sedetik kemudian ia kembali tersadar bahwa hanya Tuhanlah yang mampu mendamaikan perasaannya. Ia bersimpuh, mengadu sejadi-jadinya, menceritakan semua kerinduannya. Sebuah doa yang tak pernah putus ia panjatkan untuk pertemuan yang sangat sakral. Pertemuan dua insan yang dilanda rindu dalam balutan doa-doa panjang. Bukankah obat dari rindu adalah pertemuan? Jika benar, semoga rindumu dan rindunya saling bersua di hari yang bahagia. Bersama merayakan kerinduan dalam keridhoanNya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar