Sejak duduk dibangku Sekolah Menengah Kejuruan sampai dibangku kuliah hidup saja dipenuhi dengan buku mengenai ekonomi. Buku yang didalamnya dibahas mengenai hukum permintaan, penawaran, suku bunga, kebijakan moneter, pemasaran, dan teori ekonomi dari pakar seperti Adam Smith, Keynes, dan Leon Walras. Dalam teori - teori tersebut saya belajar bahwa motif seseorang dalam berbelanja itu banyak. Berikut adalah motif seseorang dalam belanja:
- Primary buying motive, yaitu motif untuk membeli yang sebenarnya. Misalnya, kalau orang mau makan ia akan mencari nasi
- Selective buying motive, yaitu pemilihan terhadap barang, ini berdasarkan ratio. Misalnya, apakah ada keuntungan bila membeli karcis. Seperti seseorang ingin pergi ke Jakarta cukup dengan membeli karcis kereta api kelas ekonomi, tidak perlu kelas eksekutif. Berdasarkan waktu misalnya membeli makanan dalam kaleng yang mudah dibuka, agar lebih cepat. Berdasarkan emosi, seperti membeli sesuatu karena meniru orang lain. Jadi selective dapat berbentu Rational Buying Motive, emotional buying motive atau impulse (dorongan seketika)
- Patronage buying motive. Ini adalah selective buying motive yang ditujukan kepada tempat atau toko tertentu. Pemilihan ini bisa timbul karena layanan memuaskan, tempatnya dekat, cukup persediaan barang, ada halaman parkir, orang-orang besar suka berbelanja ke situ dsb.
Sumber: Buchari Alma. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa.
Budaya konsumtif bagi saya gak melulu negatif. Sebab, dengan adanya budaya konsumtif peningkatan ekonomi negara akan meningkat. Loh bagaimana bisa? Tentu bisa dong, sebab jika permintaan akan suatu barang meningkat maka laba yang diterima penjual juga akan meningkat. Nah kalo para penjual punya keuntungan yang besar maka taraf ekonominya juga akan meningkat.
Selain itu, kalau permintaan meningkat maka dapat membantu juga mengurangi tenaga kerja. Sebab, kalau permintaannya membludaaaak produsen atau penjual pasti membutuhkan tenaga lebih untuk memproduksi barang nah dengan begitu otomatis pihak produsen akan mencari tenaga kerja tambahan.
Terkadang budaya konsumtif juga mengajarkan kita untuk saling tolong menolong. Contohnya: ada seorang teman yang baru memulai usaha jilbab melalui online shop karna belum ada orang yang beli akhirnya mau gak mau kita ngebantu dia untuk mempromosikan atau membeli barang yang dijual. Padahal mah jumlah jilbab di rumah udah menempuk (nyampe rumah dapet nasehat dari ibu hehe).
Ada juga yang membeli barang karna merasa kasihan sama penjualnya. Misalnya dulu saat masih kecil saya mempunyai seorang teman yang hobinya nyetop-in penjual keliling yang lewat didepan rumahnya. Sampai-sampai sang ibu kesal karna anaknya jajan mulu. Hingga akhirnya sang anak bercerita bahwa dia sengaja menyetop tukang jualan yang lewat di depan rumahnya karna merasa kasihan pada penjual tersebut yang usianya sudah renta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar