Rabu, 16 Agustus 2017

Merdeka

Usah kau tanya merdeka pada pusara pusara tua yang tak terjamah lagi oleh mata

Pun pada bangunan tua yang menjadikan saksi keganasan penjajah

Tanyakanlah ia pada hatimu

Sudahkah ia berjuang menjajah segala penyakit yang ada didalamnya?

Jika belum, maka perangilah!

Sebelum hasat iri tamak dengki  memamah biak

Menghitamkan segalanya


Jakarta, 17 Agustus 2017

Minggu, 06 Agustus 2017

Disiplin itu Menenangkan

Sebut saja dia Sekar, murid terpandai di kelas dengan nilai IP diatas rata-rata, selalu membuat iri semua orang termasuk saya. Iri disini dalam hal positif tentunya, seperti membuat saya lebih termotivasi untuk belajar bukan sirik apalagi sakit hati. Menurut saya Sekar adalah orang yang berhasil mengatur hidupnya agar disiplin. Dia selalu mengerjakan tugas tepat waktu, hampir semua tugas ia kerjakan sendiri. Berbeda dengan saya yang senantiasa mengerjakan tugas mepet waktu, alhasil saya pun kelimpungan. Pernah suatu waktu saya mencoba untuk mengerjakan tugas diawal waktu dan hasilnya subhanallah bener-bener enak. Otak saya tak harus berpikir keras, semua terasa lebih mudah dan yang paling penting yaitu menenangkan. Setelah tugas selesai kedamaian dan ketenangan yang saya rasakan. Berbeda saat saya mengerjakannya diakhir waktu pasti ada saja hal yang kurang, perasaan juga jadi waswas. Ternyata disiplin itu sangat penting terhadap hasil yang diraih. Pun dengan belajar, jika kita senantiasa belajar dengan disiplin maka kita akan lebih mudah mengerjakan ulangan atau kuis dadakan. Sebab jika kita menggunakan SKS (sistem kebut semalam) bukan saja otak yang kelelahan tapi badan pun akan ikut lelah, kalau badan lelah belajar pun akan terasa tidak nyaman dan hasil yang didapatkan jadi tidak maksimal. Jadi sejak saat itu saya berusaha untuk disiplin karna disiplin itu menenangkan hati, pikiran dan tubuh. 


Minggu, 02 Juli 2017

Tips Istiqomah Setelah Ramadhan

Ramadhan bulan tempat mensucikan diri sebab, ampunan dan pahala begitu banyak mengalir di bulan ini. Saat ramadhan mungkin kita senantiasa beribadah dengan mudah. Bagaimana ibadah kita dibulan lainnya? Di bulan lain mungkin kita susah untuk bangun tengah malam, untuk bersabar, dan shalat tepat waktu. Rasanya sangat berat. Nah berikut adalah tips agar kita senantiasa istiqomah dalam beribadah:

1. Menguatkan niat kita
2. Senantiasa berdoa kepada Allah
"Ya Muqolibal Qulub Sabit Qolbi Ala Dinik"
3. Berusaha shalat tepat waktu, bagi laki-laki hendaknya senantiasa menjaga shalat berjamaah di masjid
4. Usahakan membaca Al Quran setelah shalat (minimal 2lembar)
5. Senantiasa berdzikir dan mengingat Allah saat sedang marah

Godaan terbesar kita bukanlah saat bulan ramadhan, tapi di bulan-bulan lainnya. Masihkah kita berlomba dalam kebaikan di bulan lainnya? Semoga Allah senantiasa menjaga diri kita agar senantiasa istiqomah. Sebab, sebaik-baiknya amal adalah yang dilakukan terus-menerus.

Naah mungkin itu sedikit tips dari saya. Semoga amal ibadah yang kita lakukan diterima Allah swt dan kita digolongkan menjadi hambaNya yang bertakwa.

Taqabballahu minna wa minkum
Mohon maaf lahir dan batin ♡



Jumat, 09 Juni 2017

Budaya Konsumtif Ternyata Ada Positifnya Loh ^_^

Sejak duduk dibangku Sekolah Menengah Kejuruan sampai dibangku kuliah hidup saja dipenuhi dengan buku mengenai ekonomi. Buku yang didalamnya dibahas mengenai hukum permintaan, penawaran, suku bunga, kebijakan moneter, pemasaran, dan teori ekonomi dari pakar seperti Adam Smith, Keynes, dan Leon Walras. Dalam teori - teori tersebut saya belajar bahwa motif seseorang dalam berbelanja itu banyak. Berikut adalah motif seseorang dalam belanja:

  1. Primary buying motive, yaitu motif untuk membeli yang sebenarnya. Misalnya, kalau orang mau makan ia akan mencari nasi
  2. Selective buying motive, yaitu pemilihan terhadap barang, ini berdasarkan ratio. Misalnya, apakah ada keuntungan bila membeli karcis. Seperti seseorang ingin pergi ke Jakarta cukup dengan membeli karcis kereta api kelas ekonomi, tidak perlu kelas eksekutif. Berdasarkan waktu misalnya membeli makanan dalam kaleng yang mudah dibuka, agar lebih cepat. Berdasarkan emosi, seperti membeli sesuatu karena meniru orang lain. Jadi selective dapat berbentu Rational Buying Motive, emotional buying motive atau impulse (dorongan seketika)
  3. Patronage buying motive. Ini adalah selective buying motive yang ditujukan kepada tempat atau toko tertentu. Pemilihan ini bisa timbul karena layanan memuaskan, tempatnya dekat, cukup persediaan barang, ada halaman parkir, orang-orang besar suka berbelanja ke situ dsb.
Sumber: Buchari Alma. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa.
Budaya konsumtif bagi saya gak melulu negatif. Sebab, dengan adanya budaya konsumtif peningkatan ekonomi negara akan meningkat. Loh bagaimana bisa? Tentu bisa dong, sebab jika permintaan akan suatu barang meningkat maka laba yang diterima penjual juga akan meningkat. Nah kalo para penjual punya keuntungan yang besar maka taraf ekonominya juga akan meningkat.

Selain itu, kalau permintaan meningkat maka dapat membantu juga mengurangi tenaga kerja. Sebab, kalau permintaannya membludaaaak produsen atau penjual pasti membutuhkan tenaga lebih untuk memproduksi barang nah dengan begitu otomatis pihak produsen akan mencari tenaga kerja tambahan. 

Terkadang budaya konsumtif juga mengajarkan kita untuk saling tolong menolong. Contohnya: ada seorang teman yang baru memulai usaha jilbab melalui online shop karna belum ada orang yang beli akhirnya mau gak mau kita ngebantu dia untuk mempromosikan atau membeli barang yang dijual. Padahal mah jumlah jilbab di rumah udah menempuk (nyampe rumah dapet nasehat dari ibu hehe). 
Ada juga yang membeli barang karna merasa kasihan sama penjualnya. Misalnya dulu saat masih kecil saya mempunyai seorang teman yang hobinya nyetop-in penjual keliling yang lewat didepan rumahnya. Sampai-sampai sang ibu kesal karna anaknya jajan mulu. Hingga akhirnya sang anak bercerita bahwa dia sengaja menyetop tukang jualan yang lewat di depan rumahnya karna merasa kasihan pada penjual tersebut yang usianya sudah renta. 

Begitulah pandangan saya terhadap budaya konsumtif, ternyata gak selamanya budaya konsumtif itu buruk. Namun, ada baiknya juga kita memanajemen dengan baik apa yang kita butuhkan atau tidak. Sebab, berbuat boros selain menjadi temannya setan juga akan membuat kantong kita kering kaya kerupuk. 



Minggu, 28 Mei 2017

Sejak Saat Itu


Sejak saat itu ~
Saat senja menggulum senyumku menjadi haru
Debur ombak seakan menghempas suaramu
Tangisku pecah, kau berlalu
Tak menggubris semua inginku
Membiarkan semua melesat bersama anganmu yang baru

Seketika duniaku gelap
Hanya hitam yang terlihat
Hanya kesunyiaan yang kurasa
Meski diantara keramaian mobil yang berlalu lalang

Gila! Mungkin begitu pikir kalian
Melihatku merajuk
Seperti anak kecil yang kehilangan mainan
Aku menangis, mengutuk, dan memaki
Setiap nasihat yang mereka berikan
Bagai angin yang berhembus

Hingga akhirnya cahaya itu datang
Menembus sisi gelap hatiku
Mengisi kekosongan jiwaku
DIA memelukku
Mengangkat semua sedihku
Menghapus semua benciku

Sejak saat itu,
Saat aku tak bisa lagi berkata apapun selain ucapan syukur
Saat tangisku pecah dalam sujud malamku
Saat mata, hati, dan pikiranku terbuka
Aku tersadar bahwa masih ada engkau yang begitu menyayangiku
Yang tak pernah peduli betapa hinanya aku



Minggu, 07 Mei 2017

Sajak Rindu



Ia menyendiri di sudut ruang itu. Membiarkan waktu mengurungnya dalam syahdu. Dalam doa yang terus ia rapalkan, lewat alunan ayat-ayat Al Qur'an yang indah, bersama sajadah yang membentang. Hening, suaranya halus melebur bersama angin namun cukup kencang terdengar di langit. Rasa itu kembali datang, menjelma bersama angin, hujan, senja dan apapun yang ia suka. Kian lama kian membuncam, membuat pertahanannya hampir runtuh. Namun, sedetik kemudian ia kembali tersadar bahwa hanya Tuhanlah yang mampu mendamaikan perasaannya. Ia bersimpuh, mengadu sejadi-jadinya, menceritakan semua kerinduannya. Sebuah doa yang tak pernah putus ia panjatkan untuk pertemuan yang sangat sakral. Pertemuan dua insan yang dilanda rindu dalam balutan doa-doa panjang. Bukankah obat dari rindu adalah pertemuan? Jika benar, semoga rindumu dan rindunya saling bersua di hari yang bahagia. Bersama merayakan kerinduan dalam keridhoanNya.


Minggu, 23 April 2017

Dilema mahasiswa tingkat akhir

Menjadi mahasiswi tingkat akhir dengan setumpuk tugas yang belum terselesaikan memang cukup membuat otak keriting. Pikiran bercabang, makan jadi tidak teratur, tidur gak nyenyak pokoknya nikmat banget deh.

"Mending nikahin adek aja deh bang," kata seorang teman yang juga sudah lelah dengan rutinitasnya.

Bagaimana tidak, pagi sampe siang dia habiskan waktu untuk kuliah, sore sampe malam dia gunakan untuk bekerja. Alhasil lingkaran matanya pun semakin hitam. Hihi

Tapi, ada juga yang masih tetap semangat menjalani hari-harinya ditengah rutinitasnya yang super duper padat. Bahkan artis pun kalah padatnya sama dia. Sebut saja dia "Mawar". Seorang aktivis kampus yang luarrr biasa semangatnya. Mulai dari kuliah, organisasi, ngajar sana sini, dan tak lupa membantu orang tua di rumah. Pertama kali saya berkenalan dengannya saya langsung respect dan kagum sama semangat empat limanya.

Bagaimana bisa ia membagi waktunya dengan baik? Sedangkan saya saja yang tidak begitu banyak rutinitasnya terkadang masih keteteran. Kok dia bisa ya? 

Pernah suatu waktu saya bertanya kepadanya "War emang kamu gak capek apa? udah kuliah sambil kerja masih tetep ikut organisasi juga?"
dengan senyum dia menjawab, "Capek sih ada tapi yaa dinikmatin aja," 

"Dinikmatin aja maksudnya?"

"Yaa nikmatin aja Cit, toh semua ini adalah pilihan kita. Sebelum kita memilih pasti kita udah tau apa konsekuensinya kan? Jadi yaaa nikmatin aja. Mau ngeluh? Untuk apa? Emang dengan ngeluh rasa capek itu akan hilang?"

Jawabannya kena banget kan? 

"Mantab jiwa, hehehe" jawabku tertegun
"Terus gimana caranya kamu bagi waktu antara aktifitas kamu di organisasi, kampus dan tempat ngajar?"

"Jadi gini, ada orang yang bisa mengerjakan dan memikirkan semua hal dalam satu waktu. Nah ada juga orang yang gak bisa memecah fokusnya, jadi kudu diselesaikan dulu satu tugasnya baru selesaiin tugas yang lain. Aku salah satu tipe orang yang kedua." Ujarnya

"Terus, kalau deadline tugasnya kebetulan serentak gimana?" Aku masih penasaran

"Yaa makanya ketika dikasih tugas langsung aja aku kerjain, sebab kalau ditunda-tunda jadinya malah malas akhirnya keteteran deh,"

"Oh gitu," saya mengangguk mengerti

"Terkadang rasa jenuh, lelah dan lain-lain juga aku rasain. Tapi, balik lagi aku inget tujuan aku melakukan ini semua untuk apa. Kalau kamu mulai capek coba kamu bayangin aja wajah orang tua kamu, insyaAllah rasa capek itu akan hilang hehe" 

Ya, memang benar tugas seharusnya dikerjakan bukan dikeluhkan. Kalau mau ngomong capek, orang tidur pun juga capek. Hhehee

Dari obrolan saya dengan Mawar saya jadi sadar kalau apa yang saya lakukan belum ada apa-apanya dibanding dia. Lantas kenapa saya gak bisa melakukannya jika dia aja bisa? Intinya mah jangan malas, jangan menunda-nunda. Jodoh aja ditunda gak mau kan? Hahahaa


Untuk para mahasiswa tingkat akhir percaya deh jika kita melakukan sesuatu karna usaha yang besar maka hasil yang kita peroleh juga akan besar. Yuuuk selesaikan tugasnya! Tetap semangat, jangan lupa makan dan tidur teratur. 


Ganbatte ne ^_^