Kamis, 19 Juni 2014

Sebuah Petunjuk

Dibirunya laut
Di bawah mentari yang pelan-pelan mulai tenggelam
Aku berdiri
Menatap hamparan laut yang luas
Menatap megahnya cakrawala dikala senja

Aku masih terus berdiri
Menatap kosong bayangan diriku dihamparan pasir putih
Hingga, sesuatu hal menarik perhatianku
Ya, para nelayan itu.
Suara batinku berkata "Lihatlah para nelayan itu!"

Satu persatu mereka rapatkan perahu kecilnya dibibir laut.
Dengan semangat yang menggebu mereka berjuang
Bergelut dengan ombak laut yang saling bersahutan
Demi anak dan keluarganya
Demi masa depan yang Tuhan janjikan

Aku menatap haru
inikah petunjukMu?

Jumat, 13 Juni 2014

Dibawah langit

                     Masih ingatkah kalian? Dibawah langit malam, disaksikan jutaan bintang. Kita ungkapkan semua harap, mimpi, dan cita yang melebur dalam doa. Dibawah temarang bulan kita tatap langit malam dengan penuh suka cita, dengan cinta di dada.
                     Masih ingatkah kalian kalimat ajaib yang pernah kita lantunkan malam itu? Dengan penuh harap dengan semangat yang meluap. Semoga kalian masih mengingatnya seperti aku yang tak pernah melupakannya. Ijinkan aku mengutip aksara-aksara kata yang tersusun indah menjadi kalimat ajaib itu.
“Kita adalah lima peri kecil yang lahir dari rahim yang berbeda, dengan karakter yang tak sama, dan dengan sejuta mimpi yang kan mewarnai dunia. Bersama kita kepakkan sayap. Menari indah di langit fatamorgana. Melukis cerita di balik kemegahan cakrawala. Kita percaya kelak, kita akan mengubah dunia. Dengan bias-bias cinta, dengan mimpi-mimpi besar kita.”
Kalimat ajaib ini sudah menjadi dopping bagiku. Memberikan semangat disetiap langkahku.
                         Masih ingatkah kalian saat pertama kali kita bertemu? Dengan pita-pita merah yang terlekuk indah dikepala, dengan senyum malu yang menyungging di bibir kita. Kita saling menyapa, saling menyebutkan nama.Hingga akhirnya kita bisa saling mengenal sampai saat ini, dan ku harap bisa abadi sampai selamanya.
                   
                           Masih ingatkah kalian saat tiba-tiba aku mulai sibuk dengan aktifitas lainku dan menjauhi kalian? Dengan sabar dan halus kalian mengajakku bicara. Kalian bahkan meminta maaf untuk kesalahan yang tak pernah kalian buat. Dari sanalah aku mengerti bahwa kalian lebih dari seorang teman.
Sahabat, terimakasih atas segala waktu berharga yang pernah kita lalui bersama baik saat suka maupun duka. Terimakasih atas semua pelajaran yang pernah kau ajarkan kepadaku. Tentang arti kehidupan, tentang cinta, tentang manisnya berbagi dan indahnya kebersamaan. Bagiku kalian bukan hanya seorang sahabat. Kalian adalah keluarga baruku, tempatku titipkan mimpi-mimpiku. Kalian adalah guru, yang banyak mengajarkanku pelajaran-pelajaran baru yang tak bisa ku dapat di sekolah. Aku selalu berharap semoga Tuhan selalu mempersatukan kita di dunia maupun di akhirat.

Rabu, 11 Juni 2014

Sebuah kenangan

Sarapan?
Satu kata yang membuatku kembali mengingat masalaluku. Lebih tepatnya masa kanak-kanakku. 7 tahun yang lalu, saat aku masih duduk dibangku sekolah dasar. Ayah membuatkanku sarapan. Ayahku memang jago sekali masak tidak kalah hebat dengan ibuku. Beliau sering melakukan eksperimen. Membuat masakan yang beda dari yang lain. Pagi itu, aku sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Ayah menyeruku untuk makan bersamanya karena ibu dan kakakku sedang pergi ke rumah nenek di kampung.
"Ayo Cha, sarapan dulu. Ayah udah masak nasi goreng ikan asin nih," ajak ayah.
Aku yang tidak suka dengan ikan langsung menggeleng.
"Kamu ga suka? Cobain aja dulu nanti pasti ketagihan." ayah menyarankan namun aku tetap menolak.
"Aku gak suka yah, ikan asin ga enak," ucapku jujur. Ayah menatapku lalu dengan lembut iya bertanya "Terus Chaca mau makan apa? kalau Chaca gak sarapan nanti perutnya sakit."
Aku diam sejenak untuk berfikir mau makan apa.
"Chaca mau makan bubur ayam yang di depan rumah sakit itu yah," kataku
"Yaudah hari ini kita sarapan bubur disana ya."
Akhirnya aku dan ayah pergi ke tempat bubur yang aku inginkan. Saat melewati kolong jembatan yang ada di deket rumah sakit ayah menyuruhku untuk melihat anak-anak kecil dengan pakaian kumuh sedang duduk membentuk lingkaran dan makan bersama-sama.
"Kamu lihat disana? Anak-anak itu hanya bisa makan satu bungkus nasi untuk bersama. Malah terkadang mereka harus menahan lapar karna tidak punya uang untuk membeli makan," terang ayah.
Aku berfikir, dan mencerna apa yang disampaikan ayah. Aku jadi merasa bersalah karena telah menolak makanan yang dibuatkan ayah untukku. Seharusnya aku lebih mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepadaku. Aku merenungi kesalahanku. Betapa berdosanya aku yang telah menyia-nyiakan nikmat dariNya padahal masih banyak orang yang tak seberuntungku.
"A...yah" panggilku lirih.
"Ya," ayah menengok ke arahku
"Maafin Chacha ya."
"Maaf untuk apa sayang?"
"Maafin Chaca karna udah nolak makanan buatan ayah," kataku dengan kata berkaca-kaca.
Ayah memberhentikan mobilnya tepat di depan sekolahku.
"iya ayah sudah maafkan. Sekarang kamu masuk, belajar yang rajin yah." pesannya