Rabu, 11 Juni 2014

Sebuah kenangan

Sarapan?
Satu kata yang membuatku kembali mengingat masalaluku. Lebih tepatnya masa kanak-kanakku. 7 tahun yang lalu, saat aku masih duduk dibangku sekolah dasar. Ayah membuatkanku sarapan. Ayahku memang jago sekali masak tidak kalah hebat dengan ibuku. Beliau sering melakukan eksperimen. Membuat masakan yang beda dari yang lain. Pagi itu, aku sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Ayah menyeruku untuk makan bersamanya karena ibu dan kakakku sedang pergi ke rumah nenek di kampung.
"Ayo Cha, sarapan dulu. Ayah udah masak nasi goreng ikan asin nih," ajak ayah.
Aku yang tidak suka dengan ikan langsung menggeleng.
"Kamu ga suka? Cobain aja dulu nanti pasti ketagihan." ayah menyarankan namun aku tetap menolak.
"Aku gak suka yah, ikan asin ga enak," ucapku jujur. Ayah menatapku lalu dengan lembut iya bertanya "Terus Chaca mau makan apa? kalau Chaca gak sarapan nanti perutnya sakit."
Aku diam sejenak untuk berfikir mau makan apa.
"Chaca mau makan bubur ayam yang di depan rumah sakit itu yah," kataku
"Yaudah hari ini kita sarapan bubur disana ya."
Akhirnya aku dan ayah pergi ke tempat bubur yang aku inginkan. Saat melewati kolong jembatan yang ada di deket rumah sakit ayah menyuruhku untuk melihat anak-anak kecil dengan pakaian kumuh sedang duduk membentuk lingkaran dan makan bersama-sama.
"Kamu lihat disana? Anak-anak itu hanya bisa makan satu bungkus nasi untuk bersama. Malah terkadang mereka harus menahan lapar karna tidak punya uang untuk membeli makan," terang ayah.
Aku berfikir, dan mencerna apa yang disampaikan ayah. Aku jadi merasa bersalah karena telah menolak makanan yang dibuatkan ayah untukku. Seharusnya aku lebih mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepadaku. Aku merenungi kesalahanku. Betapa berdosanya aku yang telah menyia-nyiakan nikmat dariNya padahal masih banyak orang yang tak seberuntungku.
"A...yah" panggilku lirih.
"Ya," ayah menengok ke arahku
"Maafin Chacha ya."
"Maaf untuk apa sayang?"
"Maafin Chaca karna udah nolak makanan buatan ayah," kataku dengan kata berkaca-kaca.
Ayah memberhentikan mobilnya tepat di depan sekolahku.
"iya ayah sudah maafkan. Sekarang kamu masuk, belajar yang rajin yah." pesannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar