Rabu, 16 Agustus 2017

Merdeka

Usah kau tanya merdeka pada pusara pusara tua yang tak terjamah lagi oleh mata

Pun pada bangunan tua yang menjadikan saksi keganasan penjajah

Tanyakanlah ia pada hatimu

Sudahkah ia berjuang menjajah segala penyakit yang ada didalamnya?

Jika belum, maka perangilah!

Sebelum hasat iri tamak dengki  memamah biak

Menghitamkan segalanya


Jakarta, 17 Agustus 2017

Minggu, 06 Agustus 2017

Disiplin itu Menenangkan

Sebut saja dia Sekar, murid terpandai di kelas dengan nilai IP diatas rata-rata, selalu membuat iri semua orang termasuk saya. Iri disini dalam hal positif tentunya, seperti membuat saya lebih termotivasi untuk belajar bukan sirik apalagi sakit hati. Menurut saya Sekar adalah orang yang berhasil mengatur hidupnya agar disiplin. Dia selalu mengerjakan tugas tepat waktu, hampir semua tugas ia kerjakan sendiri. Berbeda dengan saya yang senantiasa mengerjakan tugas mepet waktu, alhasil saya pun kelimpungan. Pernah suatu waktu saya mencoba untuk mengerjakan tugas diawal waktu dan hasilnya subhanallah bener-bener enak. Otak saya tak harus berpikir keras, semua terasa lebih mudah dan yang paling penting yaitu menenangkan. Setelah tugas selesai kedamaian dan ketenangan yang saya rasakan. Berbeda saat saya mengerjakannya diakhir waktu pasti ada saja hal yang kurang, perasaan juga jadi waswas. Ternyata disiplin itu sangat penting terhadap hasil yang diraih. Pun dengan belajar, jika kita senantiasa belajar dengan disiplin maka kita akan lebih mudah mengerjakan ulangan atau kuis dadakan. Sebab jika kita menggunakan SKS (sistem kebut semalam) bukan saja otak yang kelelahan tapi badan pun akan ikut lelah, kalau badan lelah belajar pun akan terasa tidak nyaman dan hasil yang didapatkan jadi tidak maksimal. Jadi sejak saat itu saya berusaha untuk disiplin karna disiplin itu menenangkan hati, pikiran dan tubuh. 


Minggu, 02 Juli 2017

Tips Istiqomah Setelah Ramadhan

Ramadhan bulan tempat mensucikan diri sebab, ampunan dan pahala begitu banyak mengalir di bulan ini. Saat ramadhan mungkin kita senantiasa beribadah dengan mudah. Bagaimana ibadah kita dibulan lainnya? Di bulan lain mungkin kita susah untuk bangun tengah malam, untuk bersabar, dan shalat tepat waktu. Rasanya sangat berat. Nah berikut adalah tips agar kita senantiasa istiqomah dalam beribadah:

1. Menguatkan niat kita
2. Senantiasa berdoa kepada Allah
"Ya Muqolibal Qulub Sabit Qolbi Ala Dinik"
3. Berusaha shalat tepat waktu, bagi laki-laki hendaknya senantiasa menjaga shalat berjamaah di masjid
4. Usahakan membaca Al Quran setelah shalat (minimal 2lembar)
5. Senantiasa berdzikir dan mengingat Allah saat sedang marah

Godaan terbesar kita bukanlah saat bulan ramadhan, tapi di bulan-bulan lainnya. Masihkah kita berlomba dalam kebaikan di bulan lainnya? Semoga Allah senantiasa menjaga diri kita agar senantiasa istiqomah. Sebab, sebaik-baiknya amal adalah yang dilakukan terus-menerus.

Naah mungkin itu sedikit tips dari saya. Semoga amal ibadah yang kita lakukan diterima Allah swt dan kita digolongkan menjadi hambaNya yang bertakwa.

Taqabballahu minna wa minkum
Mohon maaf lahir dan batin ♡



Jumat, 09 Juni 2017

Budaya Konsumtif Ternyata Ada Positifnya Loh ^_^

Sejak duduk dibangku Sekolah Menengah Kejuruan sampai dibangku kuliah hidup saja dipenuhi dengan buku mengenai ekonomi. Buku yang didalamnya dibahas mengenai hukum permintaan, penawaran, suku bunga, kebijakan moneter, pemasaran, dan teori ekonomi dari pakar seperti Adam Smith, Keynes, dan Leon Walras. Dalam teori - teori tersebut saya belajar bahwa motif seseorang dalam berbelanja itu banyak. Berikut adalah motif seseorang dalam belanja:

  1. Primary buying motive, yaitu motif untuk membeli yang sebenarnya. Misalnya, kalau orang mau makan ia akan mencari nasi
  2. Selective buying motive, yaitu pemilihan terhadap barang, ini berdasarkan ratio. Misalnya, apakah ada keuntungan bila membeli karcis. Seperti seseorang ingin pergi ke Jakarta cukup dengan membeli karcis kereta api kelas ekonomi, tidak perlu kelas eksekutif. Berdasarkan waktu misalnya membeli makanan dalam kaleng yang mudah dibuka, agar lebih cepat. Berdasarkan emosi, seperti membeli sesuatu karena meniru orang lain. Jadi selective dapat berbentu Rational Buying Motive, emotional buying motive atau impulse (dorongan seketika)
  3. Patronage buying motive. Ini adalah selective buying motive yang ditujukan kepada tempat atau toko tertentu. Pemilihan ini bisa timbul karena layanan memuaskan, tempatnya dekat, cukup persediaan barang, ada halaman parkir, orang-orang besar suka berbelanja ke situ dsb.
Sumber: Buchari Alma. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa.
Budaya konsumtif bagi saya gak melulu negatif. Sebab, dengan adanya budaya konsumtif peningkatan ekonomi negara akan meningkat. Loh bagaimana bisa? Tentu bisa dong, sebab jika permintaan akan suatu barang meningkat maka laba yang diterima penjual juga akan meningkat. Nah kalo para penjual punya keuntungan yang besar maka taraf ekonominya juga akan meningkat.

Selain itu, kalau permintaan meningkat maka dapat membantu juga mengurangi tenaga kerja. Sebab, kalau permintaannya membludaaaak produsen atau penjual pasti membutuhkan tenaga lebih untuk memproduksi barang nah dengan begitu otomatis pihak produsen akan mencari tenaga kerja tambahan. 

Terkadang budaya konsumtif juga mengajarkan kita untuk saling tolong menolong. Contohnya: ada seorang teman yang baru memulai usaha jilbab melalui online shop karna belum ada orang yang beli akhirnya mau gak mau kita ngebantu dia untuk mempromosikan atau membeli barang yang dijual. Padahal mah jumlah jilbab di rumah udah menempuk (nyampe rumah dapet nasehat dari ibu hehe). 
Ada juga yang membeli barang karna merasa kasihan sama penjualnya. Misalnya dulu saat masih kecil saya mempunyai seorang teman yang hobinya nyetop-in penjual keliling yang lewat didepan rumahnya. Sampai-sampai sang ibu kesal karna anaknya jajan mulu. Hingga akhirnya sang anak bercerita bahwa dia sengaja menyetop tukang jualan yang lewat di depan rumahnya karna merasa kasihan pada penjual tersebut yang usianya sudah renta. 

Begitulah pandangan saya terhadap budaya konsumtif, ternyata gak selamanya budaya konsumtif itu buruk. Namun, ada baiknya juga kita memanajemen dengan baik apa yang kita butuhkan atau tidak. Sebab, berbuat boros selain menjadi temannya setan juga akan membuat kantong kita kering kaya kerupuk. 



Minggu, 28 Mei 2017

Sejak Saat Itu


Sejak saat itu ~
Saat senja menggulum senyumku menjadi haru
Debur ombak seakan menghempas suaramu
Tangisku pecah, kau berlalu
Tak menggubris semua inginku
Membiarkan semua melesat bersama anganmu yang baru

Seketika duniaku gelap
Hanya hitam yang terlihat
Hanya kesunyiaan yang kurasa
Meski diantara keramaian mobil yang berlalu lalang

Gila! Mungkin begitu pikir kalian
Melihatku merajuk
Seperti anak kecil yang kehilangan mainan
Aku menangis, mengutuk, dan memaki
Setiap nasihat yang mereka berikan
Bagai angin yang berhembus

Hingga akhirnya cahaya itu datang
Menembus sisi gelap hatiku
Mengisi kekosongan jiwaku
DIA memelukku
Mengangkat semua sedihku
Menghapus semua benciku

Sejak saat itu,
Saat aku tak bisa lagi berkata apapun selain ucapan syukur
Saat tangisku pecah dalam sujud malamku
Saat mata, hati, dan pikiranku terbuka
Aku tersadar bahwa masih ada engkau yang begitu menyayangiku
Yang tak pernah peduli betapa hinanya aku



Minggu, 07 Mei 2017

Sajak Rindu



Ia menyendiri di sudut ruang itu. Membiarkan waktu mengurungnya dalam syahdu. Dalam doa yang terus ia rapalkan, lewat alunan ayat-ayat Al Qur'an yang indah, bersama sajadah yang membentang. Hening, suaranya halus melebur bersama angin namun cukup kencang terdengar di langit. Rasa itu kembali datang, menjelma bersama angin, hujan, senja dan apapun yang ia suka. Kian lama kian membuncam, membuat pertahanannya hampir runtuh. Namun, sedetik kemudian ia kembali tersadar bahwa hanya Tuhanlah yang mampu mendamaikan perasaannya. Ia bersimpuh, mengadu sejadi-jadinya, menceritakan semua kerinduannya. Sebuah doa yang tak pernah putus ia panjatkan untuk pertemuan yang sangat sakral. Pertemuan dua insan yang dilanda rindu dalam balutan doa-doa panjang. Bukankah obat dari rindu adalah pertemuan? Jika benar, semoga rindumu dan rindunya saling bersua di hari yang bahagia. Bersama merayakan kerinduan dalam keridhoanNya.


Minggu, 23 April 2017

Dilema mahasiswa tingkat akhir

Menjadi mahasiswi tingkat akhir dengan setumpuk tugas yang belum terselesaikan memang cukup membuat otak keriting. Pikiran bercabang, makan jadi tidak teratur, tidur gak nyenyak pokoknya nikmat banget deh.

"Mending nikahin adek aja deh bang," kata seorang teman yang juga sudah lelah dengan rutinitasnya.

Bagaimana tidak, pagi sampe siang dia habiskan waktu untuk kuliah, sore sampe malam dia gunakan untuk bekerja. Alhasil lingkaran matanya pun semakin hitam. Hihi

Tapi, ada juga yang masih tetap semangat menjalani hari-harinya ditengah rutinitasnya yang super duper padat. Bahkan artis pun kalah padatnya sama dia. Sebut saja dia "Mawar". Seorang aktivis kampus yang luarrr biasa semangatnya. Mulai dari kuliah, organisasi, ngajar sana sini, dan tak lupa membantu orang tua di rumah. Pertama kali saya berkenalan dengannya saya langsung respect dan kagum sama semangat empat limanya.

Bagaimana bisa ia membagi waktunya dengan baik? Sedangkan saya saja yang tidak begitu banyak rutinitasnya terkadang masih keteteran. Kok dia bisa ya? 

Pernah suatu waktu saya bertanya kepadanya "War emang kamu gak capek apa? udah kuliah sambil kerja masih tetep ikut organisasi juga?"
dengan senyum dia menjawab, "Capek sih ada tapi yaa dinikmatin aja," 

"Dinikmatin aja maksudnya?"

"Yaa nikmatin aja Cit, toh semua ini adalah pilihan kita. Sebelum kita memilih pasti kita udah tau apa konsekuensinya kan? Jadi yaaa nikmatin aja. Mau ngeluh? Untuk apa? Emang dengan ngeluh rasa capek itu akan hilang?"

Jawabannya kena banget kan? 

"Mantab jiwa, hehehe" jawabku tertegun
"Terus gimana caranya kamu bagi waktu antara aktifitas kamu di organisasi, kampus dan tempat ngajar?"

"Jadi gini, ada orang yang bisa mengerjakan dan memikirkan semua hal dalam satu waktu. Nah ada juga orang yang gak bisa memecah fokusnya, jadi kudu diselesaikan dulu satu tugasnya baru selesaiin tugas yang lain. Aku salah satu tipe orang yang kedua." Ujarnya

"Terus, kalau deadline tugasnya kebetulan serentak gimana?" Aku masih penasaran

"Yaa makanya ketika dikasih tugas langsung aja aku kerjain, sebab kalau ditunda-tunda jadinya malah malas akhirnya keteteran deh,"

"Oh gitu," saya mengangguk mengerti

"Terkadang rasa jenuh, lelah dan lain-lain juga aku rasain. Tapi, balik lagi aku inget tujuan aku melakukan ini semua untuk apa. Kalau kamu mulai capek coba kamu bayangin aja wajah orang tua kamu, insyaAllah rasa capek itu akan hilang hehe" 

Ya, memang benar tugas seharusnya dikerjakan bukan dikeluhkan. Kalau mau ngomong capek, orang tidur pun juga capek. Hhehee

Dari obrolan saya dengan Mawar saya jadi sadar kalau apa yang saya lakukan belum ada apa-apanya dibanding dia. Lantas kenapa saya gak bisa melakukannya jika dia aja bisa? Intinya mah jangan malas, jangan menunda-nunda. Jodoh aja ditunda gak mau kan? Hahahaa


Untuk para mahasiswa tingkat akhir percaya deh jika kita melakukan sesuatu karna usaha yang besar maka hasil yang kita peroleh juga akan besar. Yuuuk selesaikan tugasnya! Tetap semangat, jangan lupa makan dan tidur teratur. 


Ganbatte ne ^_^

Minggu, 16 April 2017

Hujan

Hujan memang selalu membawa berkah, menciptakan kebahagiaan tersendiri bagi orang yang menyukainya. Tak terkecuali kamu, kamu yang selalu suka hujan, kamu yang selalu menanti hujan di setiap pagi hingga malam. Hari ini akhirnya hujan itu datang, menciptakan senyuman untukmu, menyempurnakan kebahagiaan bahkan separuh agamamu. Ia datang tanpa diduga, melalui proses yang sederhana dan begitu cepat. Awan hitam yang dulu kelam kini kembali bersinar saat uap air berhasil ia turunkan. Menciptakan pelangi dan kesejukan. Hari itu kamu terlihat cantik dengan senyum bahagia yang merekah, meskipun awalnya ada sedikit kesedihan karna kau harus berpisah dengan malaikatmu di dunia. Tapi, lagi-lagi hujan menenangkan dan meyakinkan bahwa kedatangannya bukan untuk memisahkan. Sekali lagi kuucapkan selamat untukmu, selamat karna berhasil melewati proses demi prosesnya. Semoga hujanmu senantiasa memberikan kebahagiaan bukan hanya di dunia saja namun hingga di akhiratNya kelak. Doakan saja aku agar senantiasa sabar menanti hujan seperti katamu "Fatimahkan dirimu sampai Ali menjemputmu,"

Rabu, 05 April 2017

Surat Untuk Abil

Dik Abil, Apakabar? Semoga Allah senantiasa menjagamu dalam pelukNya.

Dik, beberapa minggu lalu sosial media dihebohkan dengan berita tentangmu. Fotomu yang tengah kelelahan terpampang hampir disemua akun instagram. Dengan seragam cokelat yang masih kau kenakan. Kau ketuk kembali hati kami yang hampir mati, kau ajarkan kami untuk kembali mensyukuri.

Dik Abil yang saya cintai, ditengah teman-teman seperjuanganmu yang kini terlena dengan gadget, kau malah asyik menjajakan dagangan, berpeluh keringat dan lelah hanya untuk menyambung sekolah.  Rasanya ini tidak adil. Kau yang masih ingin bersekolah harus berjuang susah payah sedangkan mereka yang sudah hidup mewah malah malas ke sekolah. 

Tapi, tenang dik. Allah sangat sayang kepadamu. Ia sengaja memberikan hujan agar kamu dapat melihat pelangi. Percayalah dik, setiap pengorbanan besar pasti ada balasan yang besar pula. Mungkin kau pernah mendengar pribahasa ini "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian." 

Dik Abil, cukup sekian surat dari saya. Tetaplah semangat mengejar mimpimu. Peluklah mimpimu dan wujudkanlah. Percayalah banyak tangan Tuhan yang siap menggandengmu, menyambutmu dipuncak impian. Tetaplah gigih dan bersahaja karna kamu pasti akan menjadi orang sukses dikemudian. 


FYI : Anak ini namanya Abil usianya 11 tahun, saat ini ia masih duduk di kelas 4 SD. Setiap pulang sekolah ia berjualan snack di depan kampus saya (Universitas Indraprasta PGRI Jakarta). Ia berjualan hingga larut malam. Menurut informasi Ayah Abil adalah seorang penjual cilor ( cilok telor). Abil berjualan untuk membantu orangtuanya dan untuk biaya sekolahnya. Kedua kakaknya sudah putus sekolah. Setelah ramai dibicarakan di media sosial banyak relawan-relawan kemanusiaan yang menemuinya dan beberapa waktu lalu Abil di undang di acara hitam putih. 






Sabtu, 01 April 2017

Make Your Self Better Than Yesterday

Apa yang kita lakukan hari ini adalah hasil keputusan kita kemarin ~

Kita tak pernah tau akan jadi apa kita dikemudian hari. Berada dimana kita nanti. Dan dengan siapa kita akan bertemu. Sama halnya saya. Saya tak pernah menyangka bisa berada disini. Di tengah wanita-wanita hebat seperti mereka. Ya hebat! Mereka yang dengan mudah menjaga pandangan dan dirinya dari apa yang tidak dihalalkan baginya. Mereka yang dengan indah melantunkan ayat-ayatNya. Mereka yang selalu menjaga hubungannya dengan semesta dan penciptaNya. Saat pertama kali melihat mereka jiwa ini terasa tentram. Pakaian ketaqwaan yang begitu santun dan sederhana telah berhasil menyedot perhatiaan saya.

"Kamu gak gerah apa pake jilbab sepanjang itu?" Tanya saya pada salah seorang teman yang sudah terlebih dahulu berjilbab syar'i. Dia juga yang sudah membantu saya memperbaiki diri hingga kini.

"Lebih baik panas di dunia daripada harus merasakan panasnya api neraka," jawaban yang membuat bulu kuduk saya seketika berdiri.

Awal saya berjilbab yaitu saat saya duduk di kelas 2 SMK. Saat SMK dulu hampir teman sekelas saya mengenakan jilbab. Saya sangat senang sekali melihat mereka yang tubuhnya berbalut jilbab. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk berjilbab. Jilbab yang saya kenakan dulu belum sepanjang sekarang tapi saya tetap konsisten untuk memakainya baik di rumah maupun di luar rumah. Hari-hari panjang telah saya lewati, kekecewaan dan penyesalan akan masa lalu berhasil membuat saya sadar bahwa tiada sandaran selain Allah. Saya merasa malu sama Allah, karna begitu banyak dosa yang saya perbuat tapi, Allah begitu baik kepada saya. Dari sanalah saya meyakinkan hati untuk lebih dekat denganNya, berusaha menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Meski terkadang godaan terus menghampiri, cercaan dan cibiran menyelimuti.

"Namanya juga hidup, ada aja orang yang mengomentari sekalipun kita sudah berbuat baik," pikirku

Hidup untuk yang Maha hidup tak peduli apa komentar orang terhadapmu. Bukankah penilaian Allah lebih penting daripada penilaian manusia?

Let's walk together to jannah.



Allah memang Maha Baik. Ia memperkenalkan saya dengan orang-orang yang memiliki satu misi dan visi dengan saya yaitu sama-sama ingin 'berubah' ke jalan yang Allah ridhoi. Kita sama-sama belajar, saling ingat mengingatkan dalam kebaikan dan menasehati dengan kesabaran. MasyaAllah saya jadi tambah malu sama Allah dengan begitu banyaknya karunia yang diberikan.

"Rejeki tidak melulu tentang uang, dipertemukan dengan sahabat-sahabat sholiha juga merupakan rejeki karna bisa jadi tangan merekalah yang akan menarik kita ke surgaNya kelak," ujar salah seorang sahabat saya.

Jika kamu ingin berubah menjadi manusia yang lebih baik maka langkah awal yang harus kamu tempuh adalah memilih teman yang baik.
Seperti pepatah bilang 'jika kita berteman dengan penjual minyak wangi maka kita akan terkena wanginya, pun jika kita berteman dengan tukang pemanas besi maka kita akan terkena panasnya.'

Berteman memang boleh dengan siapa saja tapi pandai - pandailah dalam memilih sahabat. Carilah sahabat yang senantiasa mengingatkan dalam kebaikan.



Minggu, 19 Maret 2017

Kita Abadi



(Gambar: google)


Yang fana adalah waktu

Kita abadi

------------------------------------------------------------------------------
Puisi sapardi diatas mengingatkanku tentang waktu, waktu yang bergulir begitu cepat tanpa kita sadari. Sadarkah bahwa bumi berputar semakin lambat? Waktu seminggu berlalu seperti sehari. Baru kemarin rasanya saya melihat euphoria mereka yang tengah menghabiskan malam pergantian tahun dengan tiupan terompet dan letupan kembang api. Namun kini, bulan maret pun akan segera beranjak meninggalkan kita. Apa hanya saya yang merasa demikian?

Sejatinya manusia hidup abadi. Kematian datang bukan untuk mengakhiri hidup kita melainkan sebagai jalan menuju kehidupan kita yang sebenarnya. Lantas, apa yang telah kita persiapkan untuk menyambutnya? Sudah cukupkah bekal yang kita bawa untuk menjawab setiap pertanyaan yang telah disiapkan?

Kematian adalah pengingat terbaik bagi manusia. Bagaimana tidak , orang yang terlihat sehat bisa tiba – tiba meninggal. Orang yang awalnya sehat bisa mendadak sakit. Orang yang tubuhnya kuat bisa saja sekejap melemah. Ya, itulah kematian tidak memandang umur, sehat atau tidak sehat, cantik atau tidak, kalau memang sudah saatnya maka ia akan datang.

Beberapa minggu lalu, saya mendapat kabar bahwa salah seorang teman di bangku SMA terkena penyakit yang cukup serius. Perempuan yang saya kenal ceria, sehat wal afiat tiba-tiba terbaring lemah di rumah. Langkah kakinya yang dulu gesit kini tak dapat di gerakan. Badan yang tadinya berisi mendadak kurus. Itulah takdir. Kita tidak akan tau kapan sakit itu akan menyerang kita. Sekalipun pola hidup sehat telah dijalankan jika memang Allah mentakdirkan kita untuk sakit lalu kita bisa apa?

Seringkali kita dibuat terlena oleh dunia, hingga akhirat pun terlupa. Padahal jelas hidup kita di dunia hanya persinggahan. Waktu 1000 tahun di dunia hanya bernilai 1 hari di akhirat. Kesibukkan terkadang begitu menyita perhatian kita. Bekerja dari pagi sampai malam kita korbankan demi mencukupi kehidupan kita. Untuk mencukupi kehidupan atau untuk menang gengsi? Entahlah hanya diri sendiri dan Tuhan yang tau. Begitulah dunia, jika kita tidak dapat mengendalikannya maka kita yang akan dikendalikan olehnya.


Banyaklah mengingat kematian
Sebab, waktu adalah fana.
Kita abadi bukan?



Sabtu, 11 Maret 2017

Arti Sebuah Nama

Waktu kecil dulu, kita pasti sering mengajukan pertanyaan kepada orang tua kita atau orang dewasa lain yang kita temui. Mulai dari menanyakan nama benda, hewan, tumbuhan dan apapun yang kita lihat. Rasa ingin tau itu begitu besar sampai-sampai terkadang orang yang kita tanyakan malas untuk menjawabnya. Saya jadi teringat oleh pertanyaan saya waktu masih di bangku sekolah dasar.

Waktu itu saya melihat mobil ambulance terparkir di depan sekolah. Saya yang saat itu pertama kali melihat mobil ambulance, langsung fokus melihat detail mobil itu. Dari situ saya melihat tulisan di depan ambulance yang ditulis terbalik. Sontak saya pun langsung bertanya kepada Ayah yang kebetulan sedang mengantar saya ke sekolah. 
"Yah, kok tulisan di mobil ambulance itu terbalik sih?" tanya saya penasaran. 
"Tulisan di mobil ambulance memang sengaja dibuat terbalik agar jika dilihat dari kaca spion tulisannya dapat dibaca dengan mudah," jelas Ayah.
"Masa sih Yah?" Aku masih belum percaya
"Ayo sini kita buktikan kalau kamu masih belum percaya" ajak Ayah. Akhirnya Ayah mengajak saya untuk melihat ke kaca spion Ayah. Ternyata benar jika di lihat dari kaca spion maka tulisan ambulance yang tadi terbalik dapat dibaca jelas.

Dari situ saya mengerti bahwa pemberian nama pada suatu benda,  tumbuhan,  hewan bahkan manusia memiliki arti penting baik secara tersirat maupun tersurat.

Saat di bangku SMP kita juga pernah mempelajari tentang klasifikasi tumbuhan dan hewan. Bagaimana cara memberikan nama pada tumbuhan dan hewan,  apa arti nama yang diberikan, dan apa bahasa latinnya atau bahasa ilmiahnya yang sering kali membuat lidah terpeleset saat menyebutkannya. Seperti: Artocarpus heterophyllus (Nangka).  Nama nangka yang begitu mudah kita ucapkan mengapa harus memiliki nama ilmiah yang susah? Ternyata eh ternyata pemberian nama pada tumbuhan dan hewan bukan hanya asal-asalan semata.

Pemberian nama pada tumbuhan dan hewan dilihat dari jenis,  ciri, dan habitatnya.  Atau bisa juga  berdasarkan urutan taksonnya seperti kingdom,  divisi,  kelas,  ordo,  famili,  genus dan spesies. Sebuah nama adalah gambaran dari diri kita sehingga orang lain dengan mudah mengidentifikasinya.  Misalnya pada tumbuhan, saat kita menyebutkan padi pasti orang bisa langsung menembak dan menyebutkan ciri-ciri tumbuhan padi. Pun pada manusia, mengapa manusia harus memiliki nama karna manusia itu "unik" berbeda satu dengan yang lainnya bahkan anak yang terlahir kembar pun tidak akan sama.

Pemberian nama pada manusia juga didasarkan dari jenis kelamin misalnya untuk anak perempuan biasanya menggunakan nama-nama yang menunjukkan kelembutan, cantik, dan anggun seperti nama bunga (mawar, melati, anggrek dan lain-lain), atau nama ratu terkemuka (Balqis, Elizabeth dll). Sedangkan untuk nama anak laki-laki biasanya menggunakan nama yang gagah, keren dan kelakian bang7et misalnya (Guntur, Bagaskoro, Perkoso dll). Tapi, tak jarang juga ada anak laki-laki yang menggunakan nama anak perempuan seperti Nurul, Eka, Afriyana dll. 

Selain untuk mengidentifikasi,  nama juga merupakan doa dan harapan.  Setiap orang tua, keluarga bahkan kerabat pasti memiliki harapan untuk memberikan nama yang baik bagi anak-anaknya. Karna bisa jadi lewat nama tersebut doa dan harapan orang tua dapat tercapai. 







Rabu, 01 Maret 2017

Matematika itu menyenangkan


Hujan akhir-akhir ini senang bermain di langit Jakarta.  Dari intensitas kecil,  sedang  sampai besar.  Dari pagi,  siang,  sore hingga malam. Membuat saya terkadang malas beranjak dari tempat tidur. Seperti hari ini misalnya,  sampai jam tujuh pagi saya masih betah berbaring di tempat tidur, padahal jam sembilan nanti saya sudah harus sampai di tempat kerja.  Akhirnya pukul 08.00 saya segera bersiap-siap untuk bekerja.  

"Hujan bukan alasan untuk bermalas-malasan!" batin saya menyemangati diri.

Saya suka hujan.  Bau tanah basah sehabis hujan, butir air yang menempel di dedaunan setelah hujan dan semua hal mengenai hujan begitu menyenangkan bagi saya.  Setelah semua rapi, saya langsung bergegas pergi dengan payung ungu yang siap menemani saya menembus gerimis manis pagi ini. Sesampainya saya ditempat kerja,  saya langsung disambut oleh senyuman adik-adik kecil yang sudah semangat untuk menuntut ilmu.

"Hari ini kita belajar apa kak?" tanya Mawar bersemangat 

"Apa yaa?  Kalian maunya apa?" aku kembali bertanya.  

"Jangan matematika yaa ka please!" pinta Dino yang kini sudah duduk di kelas tiga sekolah dasar. 

"Memangnya kenapa dengan matematika?  Seru loh belajar matematika,  iyaa kan adik-adik?" 

"Tidaaaaaakkk!!!" jawab mereka

"Matematika itu susah ka aku gak suka," Dino kembali berkomentar

Hampir semua orang sepertinya sangat anti dengan pelajaran matematika.  Mereka selalu beranggapan bahwa matematika 'Momok' yang menakutkan sampai-sampai ada yang rela melanjutkan pendidikan ke jurusan yang tidak ada pelajaran matematikanya.  Namun,  bagi saya matematika itu menyenangkan.  Ada kepuasan tersendiri saat berhasil memecahkan soal matematika.  Meskipun awalnya bikin pusing tapi saat menemukan jawaban yang benar saya akan merasa sangat bahagia.  Seorang teman pernah bercerita kepada saya,  saat dia sedang pusing dia memilih untuk mengerjakan soal matematika hal itu sangat ampuh untuk menghilangkan kepusingannya.  

"Matematika itu gampang kok,  asalkan kita senantiasa berlatih dan fokus.  Oh ya kakak ada cerita nih mengenai matematika ada yang mau mendengarkan?" 

"Mau...mau...mau, " jawab mereka kompak 

"Oke.. Jadi,  dulu ada teman kakak yang benci banget sama pelajaran matematika sampai-sampai nilai matematikanya paling jelek di kelas, " saya mulai bercerita 

"Akhirnya wali kelas kakak memanggilnya ke kantor dan menanyakan perihal nilai ulangannya yang jelek. Kenapa nilai matematika kamu selalu jelek Frans?  Tanya wali kelas kakak.  Matematika itu susah Bu,  saya sudah coba mencari jawabannya tapi tidak pernah berhasil,"

"Bukan pelajarannya yang susah tapi,  kita saa yang selalu beranggapan bahwa pelajaran matematika itu susah.  Sehingga yang terekam dipikiran kita bahwa matematika itu susah, "

"Jadi,  mulai sekarang coba kamu ubah sudut pandangmu tentang matematika.  Kamu anggap saja bahwa matematika itu menyenangkan.  Sambil kamu terus berlatih mengerjakan soal.  Sebab,  matematika itu perlu banyak latihan.  Seperti halnya seorang pembalap,  agar jadi pembalap yang profesional mereka juga senantiasa berlatih bukan?" Ibu wali kelas saya mencoba menyarankan.

"Terus akhirnya gimana kak?" tanya Frans penasaran. 

"Akhirnya teman kakak menuruti perkataan wali kelas kakak.  Dia mulai berusaha menyukai matematika dan tekun belajar.  Alhasil saat ujian dia mendapatkan nilai tertinggi di kelas," lanjut saya 

"Waaaah keren yaaa temen kakak!  Aku jadi mau kayak temen kakak,  berarti aku harus menyukai matematika ya ka?" tanya Dino

"Iya kalian harus menyukai semua mata pelajaran agar kalian lebih mudah mempelajarinya," saya menjelaskan. 

"jadi gimana,  sudah siap belajar matematika hari ini?" tanya saya

"Siaaaaaappp kakak!" jawab mereka bersemangat

Kita memang tidak bisa memaksa anak - anak untuk menyukai apa yang dia tidak suka karna manusia itu unik dan punya kelebihan masing-masing.  Namun,  tak ada salahnya jika kita memberi mereka pemahaman untuk selalu berpikir positif dalam segala hal.  Salah satunya berpikir positif bahwa pelajaran matematika itu menyenangkan. 


Rabu, 22 Februari 2017

Memahami Sabar





"Sabarlah dengan sebaik-baiknya sabar," Ucapmu yang selalu terngiang dipikiranku.  Menemani langkahku yang terkadang mulai bengkok.

Aku kembali mendengar kata "sabar" dan kau adalah orang yang kesekian kalinya yang mengingatkanku tentang sabar disaat bahkan disetiap musibah yang aku alami.  Seperti halnya hari ini saat aku tetiba lupa menaruh ponselku hingga akhirnya ponsel itu lenyap dari genggamanku.

"Sabar ya Git,  kalau emang rejeki pasti balik lagi kok," ucapmu mencoba menenangkan.  Awalnya aku muak dengan kata sabar,  bisakah kalian mengucapkan kata lain selain sabar.  Aku tau, aku mesti sabar menerima semuanya tanpa harus kalian beritahu.
Ah,  adakah kata manis dan menenangkan selain kata sabar? Hingga suatu waktu kamu datang menemuiku dan membuka pikiranku tentang makna sabar sesungguhnya.

"Fashbir Shabron Jamila," katamu yang kala itu menemuiku saat aku sedang benar-benar terpuruk.  Terombang ambing oleh perasaan kecewa,  sedih,  dan kebencian.

"Aku udah sabar banget Din tapi,  kenapa Allah selalu mengujiku." ujarku
"Sabar itu gak ada batasnya Git. Allah menguji kamu karna Allah tau kamu bakalan kuat menghadapinya," jelas Dina
"Sama halnya kamu sekolah.  Enggak mungkinkan guru kamu ngasih soal ujian kelas 10 padahal kamu sendiri masih duduk dibangku SMP." lanjutnya.

Aku mencerna setiap kata yang terucap dari mulutnya sambil sesekali beristighfar memohon ampun kepada Allah.

"Nah, apalagi Allah.  DIA gak akan pernah salah memberikan ujian bagi hambanya. Bukankah ujian juga merupakan salah satu bukti CintaNya?"

Hatiku kembali luluh mendengar ucapannya yang begitu tenang dan mendamaikan. Kamu benar, aku harus banyak memahami sebuah kata.  Salah- satunya memahami makna sabar yang sesungguhnya.  Karna jika kita telaah lebih jauh, sabar bukan hanya ungkapan dari  penerimaan semata, bukan pula kemampuan untuk menahan emosi.

Sabar berarti kita yakin bahwa Allah tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuan hambanya.  Sabar, meneguhkan hati kita bahwa di setiap kesusahan pasti ada kemudahan.  Sabar, menyakinkan kita bahwa semua berasal dariNya dan akan kembali kepadaNya.  Dan sabar senantiasa mengingatkan kita bahwa apa yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik menurutNya. 


Selasa, 07 Februari 2017

M A A F


Nad,  hari ini adalah hari kesepuluh aku melepasmu.Tatap kosong matamu masih teringat jelas dipikiranku. Raut wajah kekecewaanmu pun masih menghantui malam-malamku. Salahkah aku melepasmu? Hingga kini pikiranku masih selalu tentangmu. 
Meski terkadang logika kembali menyadarkanku bahwa ini adalah keputusan besarku. 


Nad,  ku tau kau akan sangat membenciku, mencaciku dan menganggapku jahat. Aku akan terima semua kekecewaan serta kemarahanmu asal kau dapat bahagia. Ya,  bahagia dengan hidup barumu tanpaku.

Nad,  maafkan aku yang belum bisa menjadikanmu satu-satunya wanita yang bersemayam dihatiku karna aku pun tak mau durhaka kepada ibuku.Bukankah Rasul menganjurkan kita untuk berbakti kepada ibu?  Jadi ku mohon maafkanlah aku. 


Maafkanlah aku yang belum mampu menjadikanmu bidadari dihidupku, mengajarimu banyak ilmu serta menghalalkanmu.  Aku tau aku pengecut. Bahkan untuk berhadapan dengan ayahmu pun aku tak berani. Oleh sebab itu,  biarkanlah aku pergi. 


Nad,  ku tau kau adalah gadis yang tegar.Semangatmu pun selalu menyegarkan. Kau selalu berpesan untuk selalu memaafkan bukan? Katamu memaafkan lebih mudah daripada menerima.  Kini,  ku mohon kau dapat memaafkan serta menerima. Menerima bahwa tak selamanya apa yang kau inginkan dapat kau dapatkan.Menerima bahwa takdir bukan sebuah kebetulan. Menerima bahwa disetiap pertemuan pasti ada perpisahan. 


Begitulah Nad,  aku ingin kau bahagia dengan hati yang damai dan penuh keikhlasan. Aku disini akan selalu mendoakan dan belajar.Semoga kelak jika Tuhan ijinkan kita kembali bersama kau takkan ku kecewakan. Tapi,  jika ternyata takdir tidak menyiratkan maka ku harap kita akan sama-sama bahagia dengan apa yang telah disuratkan.  


Jakarta,  08 Februari 2017
 



Rabu, 01 Februari 2017

Suka Duka Angkoters

"Ayo neng langsung berangkat! " teriak salah satu supir angkot yang sedang ngetem di sekitar terminal. Saya pun masuk ke dalam angkot tersebut.  Nasib punya rumah yang lumayan jauh dari kampus membuat saya harus naik angkot tiga kali untuk sampe ke kampus. Sebelnya kalo lagi dapat jadwal kuliah pagi mau gak mau harus berangkat dari rumah sebelum matahari terbit kalo enggak mau telat. 

    Suara si abang masih teriak-teriak sambil memainkan pegas dan rem. Bangku di angkot ini sudah terisi beberapa orang. Ada anak sekolah yang sibuk dengan gadget ditangannya,  ada lelaki paruh baya yang sedang tertidur (nampaknya dia masih ngantuk),  dan ada dua orang Ibu-ibu, yang satu berseragam dinas hijau dan satunya berseragam batik. Serta saya yang sibuk memperhatikan mereka semua.  

    Si Ibu berseragam dinas sudah menunjukkan muka keselnya sambil sesekali melihat jam yang melingkar dipergelengan tangannya. Sepertinya beliau sedang diburu oleh waktu atau mungkin bete karna diberi harapan palsu oleh abang angkot yang katanya siap berangkat itu.  Ya beginilah nasib angkoters sering sekali di 'php-in' supir angkot macam abang ini dengan iming-iming "langsung jalan".

    Bagi sebagian orang kata - kata itu mungkin terdengar biasa namun,  bagi orang yang sedang diburu waktu kata itu seperti angin surga yang seolah menenangkan.  Tapi,  memang benar apa yang banyak dikatakan oleh kebanyakan orang 'terkadang apa yang kita bayangkan tak selalu sesuai dengan kenyataan'. 

    Kini angkot sudah mulai terisi penuh. Si Ibu berseragam dinas mulai geram dan bersuara.
"Masih lama bang?  Udah gerah nih! "
"Sabar bu,  kalau udah penuh juga langsung jalan kok. Kalau mau adem naik taksi aja, " jawab si Abang ketus. 
"Jalan mah jalan aja bang gak usah nunggu lama toh rejeki mah sudah diatur sama Tuhan.  Siapa tau nanti di jalan banyak yang naik." timpal si Ibu berseragam batik.  

    Akhirnya seorang penumpang naik dan berhasil membuat angkot ini penuh.  Si Abang langsung menancap gas dan melajukan mobil tanpa perasaan. Melewati jalanan ibukota yang mulai macet dengan kecepatan yang cukup tinggi sehingga membuat ia harus menekan tombol remnya. Sontak membuat penumpang menggeleng-gelengkan kepala dan beristighfar. Saya jadi teringat kata Lia saat saya pulang bareng dia beberapa hari lalu dengan kondisi abang angkot seperti ini ia berkata "kalau ada Ibu hamil yang naik langsung lahir dah tuh bayi disini, " sindirnya. 

    Nah itulah dukanya jadi angkoters saat bertemu abang angkot macam ini.  Udah 'php',  bawa mobil kayak orang kesetanan,  dan suka naikin tarif sesukanya dengan alasan "bensin aja naik".

Sumber: google

Selasa, 24 Januari 2017

[ Di Kota Ini]




Yeaaaaay akhirnya nulis lagi setelah dua tahun vakum,  semoga dengan gabung dikomunitas ini kedepannya akan konsisten nulis meski #1minggu1cerita 😄

*******************

      Ada semerbak rindu yang ku hirup saat mendengarkanmu bercerita tentang kota kelahiranmu dan kelahirannya. Matamu berbinar sambil sesekali mengingat kejadian kecil yang mungkin sudah kau lupa. Dengan khidmat kau bercerita tentang hijaunya sawah di halaman rumah, sejuknya pagi di atas bukit sampai asyiknya menyeruput es dawet hitam di depan sekolahmu. Bibirku mengecap membayangkan ada segelas dawet hitam dihadapanku. 
     
     Kau terus bercerita, tentang awal pertemuanmu dengannya. Di alun  alun kota, dibawah gemuruh petasan yang meledup  ledup. Ia menyapamu dengan senyuman manisnya, kau balas sapaannya kemudian berlanjut ke pertemuan-pertemuan berikutnya. Beberapa kali dia mengajakmu bersepeda ontel mengelilingi kota kecil ini. Menghirup udara pagi atau sekedar menikmati senja di gedung tua dipinggir jalan. 

      Kau menarik nafas untuk menahan tangis kerinduan. Aku menggenggam tanganmu mencoba menguatkan. Hingga kau kembali bercerita tentang keseruan menangkap jangkrik di sawah, dan lelahnya menumbuk padi. 
"Apa aku bisa mencobanya nanti saat aku berkunjung kesana?" tanyaku
"Tentu saja," jawabnya seraya tersenyum

      Kau mengatakan bahwa gedung sekolah disamping rumah si mbah dulunya adalah hutan. Tempat kau dan adik-adikmu mencari kayu untuk memasak. Serta beberapa tempat yang kini sudah berubah menjadi tempat lain. 
"Dulu warung disini bisa dihitung jari, bahkan sangat langka. Sekarang, supermarket sudah menjamur hampir disepanjang jalan," jelasmu yang baru lima bulan lalu kesana. 

       Mendengarmu bercerita membuatku tak sabar untuk berkunjung lagi kesana. Ke rempat dimana kau dan dia dibesarkan, bertemu dan akhirnya mengikat janji setia. Tempat dimana kenangan  kenangan manis tercipta. Ya, kota ini! Kota kecil dengan berjuta cerita. Kota ini selalu berhasil membuatku rindu. Rindu menikmati segelas teh hangat ditemani geplak yang konon adalah salah satu makanan khas kota ini. Rindu berkunjung ke museum kereta api untuk berburu sunset. Rindu akan keindahan alamnya, keramahan penduduknya dan kelezatan makanannya.


Minggu, 22 Januari 2017

Kembali ~


Aku mencoba untuk melupakannya, melenyapkan semua mimpi serta citaku.
Tak ku rubis lagi revolusi-revolusi yang kubuat tentangnya.  Ku sibukkan diriku dengan hal lain, aku benar-benar ingin lupa!
Hingga suatu hari,  perhatianku kembali tertuju kepadanya,  ingatanku berputar saat aku masih membersamainya,  ku lihat,  ku baca dan menghadirkan secuil senyum dibibirku "Aku rindu, " desahku lirih. Aku rindu kebersamaanku dengannya. Sudah cukup banyak waktu yang ku lalai bersamanya.  Senang,  sedih,  jatuh cinta, patah hati, lalu bangkit kembali ku tuangkan lewatnya. Kini ketika aku kembali membuka catatan-catatan kecilku di facebook,  membuat dinding kekuatanku hancur.
"Segitu sajakah perjuanganmu? Sebegitu menyerahkah dirimu?Ku mohon, kembalilah! Kembali bersamaku, menghabiskan waktumu denganku, " tulisan - tulisan itu seakan memintaku kembali.
"Bisakah aku kembali?  Dapatkah aku menulis lagi?" pikirku sedikit ragu
"Ya,  kamu pasti bisa!" kini tulisan itu seolah menyemangatiku.
Akhirnya di awal tahun ini aku kembali.  Kembali menemukan semangatku yang hilang.  Kembali merasakan jatuh cinta,  ya jatuh cinta dengan hobi lamaku.  Semoga semangat ini tak lagi hilang, semoga aku dapat terus membersamaimu meski satu minggu sekali!