Senin, 11 Agustus 2014

Believe Your Self


                                                   Banyak kita jumpai dan kita dengar para remaja atau bahkan teman sejawat kita yang selalu merasa putus asa. Merasa dunia ini tidak adil. Merasa dirinya tak berguna. Padahal setiap manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda satu dengan yang lain. Misalnya; Si A dia sangat ahli dibidang komunikasi namun dia kurang ahli dibidang masak memasak. Hadirlah Si B dia sangat ahli dibidang masak memasak sampai akhirnya ia bercita-cita untuk membuat restoran sederhana tapi, dia agak pendiam sehingga ia butuh orang yang pandai berkomunikasi untuk mengajarinya. Ya, begitulah hidup. Saling melengkapi. Coba bayangkan jika semua orang memiliki keahlian yang sama dan kekurangan yang sama?. Dunia ini tidak akan terasa indah. Alasan mendasar yang membuat seseorang putus asa adalah kurangnya rasa kepercayadirian. Merasa minder dan takut untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.
                                                    Kenapa rasa kepercayadirian itu begitu kurang? Kurangnya rasa kepercayadirian disebabkan oleh ketidak yakinan akan kemampuan yang kita miliki dalam diri kita. Kurangnya motivasi dalam diri sendiri. Motivasi dalam diri sendiri merupakan salah satu hal yang sangat berpengaruh dalam perkembangan dan kesuksesan seseorang. Jika kita terbiasa memotivasi diri dengan hal-hal yang positif, otak dan tubuh kita juga akan melakukan hal yang positif. Dengan begitu kita juga akan mendapatkan hasil yang positif. 
                                                  Selain itu, kita juga perlu berkomunikasi dengan orang lain. Berteman dengan banyak orang. Atau gabung dalam organisasi. Aktif dalam berorganisasi juga dapat meningkatkan rasa kepercayadirian seseorang. Membuat kita lebih pede berkomunikasi di depan umum. Selain itu dengan berorganisasi kita bisa dapat masukan dan dukungan dari teman-teman. Sehingga, rasa minder itu lama kelamaan akan berkurang.

Jadi, gak usah takut atau cemas jika kita merasa kurang minder. Karena rasa minder itu dapat diatasi dengan rasa keyakinan dalam diri sendiri, bergabung dengan sebuah organisasi, dan selalu berfikir positif.


Jakarta, 11 Agustus 2014

Sabtu, 02 Agustus 2014

Inilah Pilihanku



                                          Bicara tentang mimpi sama halnya bicara tentang harapan. Ya, harapan. Semua orang di dunia ini tak ada satupun yang tak pernah bermimpi, bercita-cita, dan berharap akan sesuatu. Tapi, tak jarang orang yang mau memperjuangkan mimpinya, cita-citanya, dan harapannya. Mungkin bagi sebagian orang mimpi adalah pemanis dan bunga tidur saja. Mereka terlalu takut untuk mewujudkan dan memperjuangkan mimpinya. Padahal mimpi adalah the power of life. Bagiku mimpi adalah kompas yang akan memanduku untuk mencapai tujuan hidup. Dengan mimpi kita bebas berimajinasi, mengkhayal tentang masa depan kita. Mimpi adalah penyemangat. Penguat saat kita lelah menjalani kehidupan ini.

                                         Awalnya aku memang seorang yang takut untuk bermimpi. Takut apa yang aku inginkan dan aku impikan tak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Pernah terlintas dibenakku apakah pantas aku bermimpi? Toh tanpa mimpi hidupku tetaplah seperti ini. Banyak juga orang yang mengejekku. “Sudahlah jangan terlalu banyak bermimpi! Nanti kalau gak sesuai kenyataan kamu sendiri yang akan sakit,” ucapnya sambil tertawa. Sempat aku membenarkan ucapan itu dan berfikir kalau aku terlalu berharap akan mimpi yang belum pasti terwujud. Namun, ternyata pemikiranku salah. Mimpi adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk tetap ditempat atau beranjak ke tempat yang lebih baik. Orang yang mempunyai mimpi besar sangat jauh berbeda dengan orang yang tak mempunyai mimpi. Dengan adanya mimpi orang akan lebih bersemangat meraih cita-citanya. Lebih kuat menjalani hidupnya. Lebih tegar saat dunia menjatuhkannya. Mereka selalu percaya tak ada hal yang sia-sia. Bukankah Allah sudah menjanjikan. Tak akan berubah nasib seseorang jika kita tak merubahnya. Ya, begitu juga dengan mimpi. Mimpi adalah pilihan. Pilihan untuk tetap bermimpi saja atau berjuang untuk mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan. Aku akan buktikan pada dunia bahwa mimpi bukan hanya sekedar angan-angan saja. Bukan harapan kosong belaka. Aku akan berjuang dan buktikan suatu saat nanti mimpiku akan menjadi kenyataan.

Kamis, 19 Juni 2014

Sebuah Petunjuk

Dibirunya laut
Di bawah mentari yang pelan-pelan mulai tenggelam
Aku berdiri
Menatap hamparan laut yang luas
Menatap megahnya cakrawala dikala senja

Aku masih terus berdiri
Menatap kosong bayangan diriku dihamparan pasir putih
Hingga, sesuatu hal menarik perhatianku
Ya, para nelayan itu.
Suara batinku berkata "Lihatlah para nelayan itu!"

Satu persatu mereka rapatkan perahu kecilnya dibibir laut.
Dengan semangat yang menggebu mereka berjuang
Bergelut dengan ombak laut yang saling bersahutan
Demi anak dan keluarganya
Demi masa depan yang Tuhan janjikan

Aku menatap haru
inikah petunjukMu?

Jumat, 13 Juni 2014

Dibawah langit

                     Masih ingatkah kalian? Dibawah langit malam, disaksikan jutaan bintang. Kita ungkapkan semua harap, mimpi, dan cita yang melebur dalam doa. Dibawah temarang bulan kita tatap langit malam dengan penuh suka cita, dengan cinta di dada.
                     Masih ingatkah kalian kalimat ajaib yang pernah kita lantunkan malam itu? Dengan penuh harap dengan semangat yang meluap. Semoga kalian masih mengingatnya seperti aku yang tak pernah melupakannya. Ijinkan aku mengutip aksara-aksara kata yang tersusun indah menjadi kalimat ajaib itu.
“Kita adalah lima peri kecil yang lahir dari rahim yang berbeda, dengan karakter yang tak sama, dan dengan sejuta mimpi yang kan mewarnai dunia. Bersama kita kepakkan sayap. Menari indah di langit fatamorgana. Melukis cerita di balik kemegahan cakrawala. Kita percaya kelak, kita akan mengubah dunia. Dengan bias-bias cinta, dengan mimpi-mimpi besar kita.”
Kalimat ajaib ini sudah menjadi dopping bagiku. Memberikan semangat disetiap langkahku.
                         Masih ingatkah kalian saat pertama kali kita bertemu? Dengan pita-pita merah yang terlekuk indah dikepala, dengan senyum malu yang menyungging di bibir kita. Kita saling menyapa, saling menyebutkan nama.Hingga akhirnya kita bisa saling mengenal sampai saat ini, dan ku harap bisa abadi sampai selamanya.
                   
                           Masih ingatkah kalian saat tiba-tiba aku mulai sibuk dengan aktifitas lainku dan menjauhi kalian? Dengan sabar dan halus kalian mengajakku bicara. Kalian bahkan meminta maaf untuk kesalahan yang tak pernah kalian buat. Dari sanalah aku mengerti bahwa kalian lebih dari seorang teman.
Sahabat, terimakasih atas segala waktu berharga yang pernah kita lalui bersama baik saat suka maupun duka. Terimakasih atas semua pelajaran yang pernah kau ajarkan kepadaku. Tentang arti kehidupan, tentang cinta, tentang manisnya berbagi dan indahnya kebersamaan. Bagiku kalian bukan hanya seorang sahabat. Kalian adalah keluarga baruku, tempatku titipkan mimpi-mimpiku. Kalian adalah guru, yang banyak mengajarkanku pelajaran-pelajaran baru yang tak bisa ku dapat di sekolah. Aku selalu berharap semoga Tuhan selalu mempersatukan kita di dunia maupun di akhirat.

Rabu, 11 Juni 2014

Sebuah kenangan

Sarapan?
Satu kata yang membuatku kembali mengingat masalaluku. Lebih tepatnya masa kanak-kanakku. 7 tahun yang lalu, saat aku masih duduk dibangku sekolah dasar. Ayah membuatkanku sarapan. Ayahku memang jago sekali masak tidak kalah hebat dengan ibuku. Beliau sering melakukan eksperimen. Membuat masakan yang beda dari yang lain. Pagi itu, aku sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Ayah menyeruku untuk makan bersamanya karena ibu dan kakakku sedang pergi ke rumah nenek di kampung.
"Ayo Cha, sarapan dulu. Ayah udah masak nasi goreng ikan asin nih," ajak ayah.
Aku yang tidak suka dengan ikan langsung menggeleng.
"Kamu ga suka? Cobain aja dulu nanti pasti ketagihan." ayah menyarankan namun aku tetap menolak.
"Aku gak suka yah, ikan asin ga enak," ucapku jujur. Ayah menatapku lalu dengan lembut iya bertanya "Terus Chaca mau makan apa? kalau Chaca gak sarapan nanti perutnya sakit."
Aku diam sejenak untuk berfikir mau makan apa.
"Chaca mau makan bubur ayam yang di depan rumah sakit itu yah," kataku
"Yaudah hari ini kita sarapan bubur disana ya."
Akhirnya aku dan ayah pergi ke tempat bubur yang aku inginkan. Saat melewati kolong jembatan yang ada di deket rumah sakit ayah menyuruhku untuk melihat anak-anak kecil dengan pakaian kumuh sedang duduk membentuk lingkaran dan makan bersama-sama.
"Kamu lihat disana? Anak-anak itu hanya bisa makan satu bungkus nasi untuk bersama. Malah terkadang mereka harus menahan lapar karna tidak punya uang untuk membeli makan," terang ayah.
Aku berfikir, dan mencerna apa yang disampaikan ayah. Aku jadi merasa bersalah karena telah menolak makanan yang dibuatkan ayah untukku. Seharusnya aku lebih mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepadaku. Aku merenungi kesalahanku. Betapa berdosanya aku yang telah menyia-nyiakan nikmat dariNya padahal masih banyak orang yang tak seberuntungku.
"A...yah" panggilku lirih.
"Ya," ayah menengok ke arahku
"Maafin Chacha ya."
"Maaf untuk apa sayang?"
"Maafin Chaca karna udah nolak makanan buatan ayah," kataku dengan kata berkaca-kaca.
Ayah memberhentikan mobilnya tepat di depan sekolahku.
"iya ayah sudah maafkan. Sekarang kamu masuk, belajar yang rajin yah." pesannya

Jumat, 23 Mei 2014

Berbagi

                           Menulis bukan hanya pelarian saat dimana lidah kita keluh untuk mengungkapkan sesuatu. Bukan sekedar rangkaian kata-kata indah. Bukan pula hobi yang sia-sia. Menulis lebih dari itu. Ya, lebih dari itu. Menulis merupakan salah satu jembatan untuk mendapatkan sebuah pengetahuan baru. Menulis merupakan sarana untuk berbagi dengan sesama. Dengan menulis kita dapat berbagi info apa saja kepada orang lain. Berbagi pengalaman, berbagi pelajaran, dan berbagi pengetahuan yang dapat bermanfaat. Tanpa adanya tulisan tidak ada buku-buku bagus yang banyak memberikan pelajaran bagi kita. Tak mungkin seseorang dapat membaca jika tidak ada tulisan.
                           Itulah alasan saya menulis. Dengan menulis saya bisa menggunakan waktu luang saya untuk hal yang lebih positif. Berbagi dengan sesama. Mengembangkan imajinasi. Dari menulis saya juga banyak belajar. Memicu saya untuk banyak membaca buku. Menyemangati saya untuk terus menambah pengetahuan. 

Rasanya masih banyak hal yang harus saya pelajari. Masih banyak sekali kekurangan saya dalam menulis. Selamat malam :) 
 

Kamis, 22 Mei 2014

Ijinkan aku berkasih denganMu

Duhai pemilik cinta,
Betapa rindu ini kepadaMu
Namun, masih pantaskah aku merinduMu?
Setelah sekian lama aku menjauhiMu.

Wahai pemberi cinta,
Bolehkah aku bercerita denganMu
Tentang getaran yang ada dihatiku
Tentang rasa yang menggebu dibatinku

Duhai cinta sejatiku,
Ijinkan aku berkasih denganMu malam ini
Di sepertiga malamMu
Ijinkan aku merajut kembali cinta kita yang pernah terlewatkan
karena ku tau Engkau tak pernah menolak cinta para kekasihMu

Rabu, 07 Mei 2014

Lelaki di Musim Hujan

Langit masih senang menangis
Hatiku masih meringis
Saat payungmu tak lagi menggubris
Membiarkanku tergigil manis
Dia datang menghapus tangis
Merengkuhku dalam sunyi
Dalam hujan yang tak kunjung henti
Kau tawarkan payungmu
Hatiku kini tak lagi meringis
Kau tersenyum manis
Saat aku menahan tangis

Untitle

Tak ada kata yang mampu mampu mewakilkan perasaanku saat ini. Sedih, kesal, kecewa dan sakit hati semua bercampur jadi satu. Tiga tahun sudah ku rajut kisah bersamanya. Melewati masa-masa bahagia dan susah bersama. Niat untuk melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius pun sudah ada. Namun, seperti petir di siang bolong kau ucapkan kata-kata yang tak ingin ku dengar. “Aku tau ini gak mudah buat kamu. Tapi, percayalah ini adalah keputusan yang terbaik. Aku gak mau buat kamu sedih lagi,” ucapnya malam itu. Aku tak percaya dengan mudah kamu ucapkan kata-kata itu, dengan mudah kamu biarkan aku meneteskan airmata. Tiga tahun sudah aku berusaha memahami, mengerti dan belajar menjadi yang terbaik buat kamu. Tapi, apa yang kamu lakukan?
Setelah kejadian itu hari-hariku terasa gelap, semua terasa hampa. Seminggu sudah ku habiskan waktuku dengan menangis, dan meratapi kesedihanku. Ku tatap wajahku dicermin. Terlihat kusut seperti mayat hidup. Mataku terlihat bengkak dengan tatapan mata yang kosong. Orangtua serta sahabat terdekatku mencoba menyemangatiku tapi tak pernah ku hiraukan.
“Sudahlah Mal, kalau emang dia jodoh lo dia akan balik lagi kok sama lo,” ujar Hana
“Ini gak semudah apa yang lo pikirin Han, coba lo jadi gue? Lo pasti akan ngelakuin hal yang sama kayak gue,” jawabku sambil menatapnya sendu.
“Hmm, siapa bilang gue gak pernah ngerasain hah? Gue tau apa yang lo rasain! Gue pernah ngerasain apa yang lo rasain! Tapi, apa perlu lo bersedih-sedih, lo sakiti diri lo kayak gini!” Hana nampak kesal.
“Gue tau semua ini emang gak mudah buat lo. Tapi, ini semua udah terjadi sesuai jalan ceritanya. Sekuat apapun lo menolaknya tetap aja gak bisa.”
Aku menatapnya, tak pernah ku lihat ia semarah itu kepadaku. Sejak pertama kali mengenalnya hampir tak pernah ia marah kepadaku.
“Maaf kalau gue sok guruin lo, gue ngelakuin semua ini karena gue sayang sama lo! Gue mau lo berdamai sama hati lo. Coba menerima ketentuan Tuhan, ikuti jalan ceritanya. Karena hanya dengan seperti itu hidup lo akan jauh lebih baik.” Hana mengenggam tangannku hangat.
Aku tak kuasa menahan tangis. Ku jatuhkan tubuhku dalam pelukannya.
“Terima kasih,” ucapku sambil terus menangis.
“Sama-sama, udah jangan nangis lagi ya.”
Kini aku semakin mengerti dibalik setiap kejadian pasti ada hikmah yang dapat dipetik. Aku sadar selama ini sifat dan perbuatanku jauh dari kata sempurna. Terlalu lama aku menjauh dariNya, terlalu sering aku melakukan hal yang dilarangNya. Salah satunya dengan pacaran. Mungkin itu sebabnya ia menegurku agar aku kembali mengingatNya. Mungkin benar yang dikatakan Hana sebaiknya aku focus untuk berbenah diri.
“Kalau bisa sih jangan pacaran lagi hehe,” katanya.
“Iya bu guru, insyaAllah muridmu ini tidak akan berpacaran lagi sebelum menikah hehehe,” kataku sambil tersenyum.

Jumat, 28 Februari 2014

Serupa

Mendung di matamu
Rerupa langit di februari
Hitam dan gelap

Rintik air matamu
Rerupa hujan yang di nanti tanah
Basah namun menyejukkan

Kilatan matamu
Rerupa petir yang menyambar
Seram dan mematikan

Sabtu, 22 Februari 2014

Keputusan Akhir

Sekuat apapun kita menggenggamnya, jika Allah berkata lain genggaman itu pasti akan lepas. Begitu dengan aku dan kau. Sekuat apapun kita mencintai, namun jika Allah tak mentakdirkan kita bersatu, kita juga akan terpisah.

***

Malam minggu bagiku sama seperti malam-malam lainnya. Gak ada yang special. Gak ada yang menjemputku keluar rumah untuk sekedar melihat keindahan kota jakarta dimalam hari. Atau sekedar menemaniku nonton drama korea di rumah. Tidak punya pacar? hmm kata siapa? Kalau yang disebut pacar adalah temen cowok yang setia menemani kita kapan pun, menjemput kita saat kita pulang kerja, atau bahkan bersms dan bertelepon mesra. Itu tandanya aku punya. Yah, walaupun aku dan dia tidak menyandang status pacaran tapi hubungan kami sudah terasa dekat. Rakha. Itulah namanya. Nama yang tak pernah absen muncul di panggilan masuk ponselku. Nama yang selalu ku sebut saat aku bercerita dengan Tuhan. Sudah hampir dua tahun aku dan dia saling berbagi cerita meski lewat telepon genggam. Ya, hanya lewat telepon genggam. Rakha teman SMA ku itu sedang melanjutkan studinya di salah satu universitas negeri di Surabaya. Sedangkan aku, memilih untuk tetap melanjutkan studi di tempat kelahiranku jakarta. Sehingga kami harus menjalani hubungan jarak jauh atau bahasa kerennya LDR (Long Distance Realitonship). Meskipun kami hanya menjalin hubungan jarak jauh. Rakha selalu berusaha untuk selalu memperbaiki komunikasi diantara kita karena menurutnya komunikasu adalah kunci terpenting dalam sebuah hubungan. Setiap malam sebelum tidur dia selalu menyempatkan untuk bercerita. Ya, cerita apa saya yang bermanfaat pastinya. Aku selalu setia mendengarkan ceritanya, terkadang aku juga sering bercerita tentang kegiatan yang ku lakukan dari pagi sampai malam. Walaupun tak pernah terucap kata darinya "mau gak kamu jadi pacarku?" aku tak peduli. Aku akan tetap sayang sama dia begitupun sebaliknya.

Pada suatu malam di bulan juni. Dia kembali meneleponku. Dia mengutarakan niatnya kepadaku.

"Num, nanti kalau sekolahku sudah selesai. Aku ingin melamarmu." Aku tak bisa berkata apa-apa. Perkataannya malam itu membuat aku bahagia sekali. Ingin rasanya waktu ku putar cepat. Agar aku bisa cepat menjadi kekasih halalnya. Menjadi sesorang yang ada disampingnya saat ia membuka mata.

Hari terus berganti. Waktu berjalan terasa cepat. Tidak terasa kini aku sudah duduk di semester enam. Itu berarti setahun lagi studiku akan selesai begitu juga dengannya. Aku jadi semakin tak sabar menanti. Tapi, akhir-akhir ini aku merasa ada sesuatu yang berubah darinya. Ia jadi jarang menghubungiku. Biasanya ia selalu mengirimkan pesan setiap pagi namun, kini ia hanya menelponku saat malam tiba.

"Mungkin dia lagi sibuk." pikirku positif.

Seminggu lagi liburan semester akan dimulai. Aku berencana untuk mengunjunginya . Tanpa memberitahu dia sebelumnya karena aku ingin memberikan kejutan untuknya. Tapi, sehari sebelum keberangkatanku Ayah mengalami kecelakaan dan harus di rawat di rumah sakit. Alhasil aku membatalkan keberangkatanku ke surabaya.

Seminggu sudah Ayah di rawat. Kini, Ayah sudah diperbolehkan pulang. Aku senang sekali. Setibanya di rumah, Rakha menghubungiku. Dia menanyakan keadaan Ayah.

"Syukurlah aku ikut senang."ucapnya "Num," panggilnya pelan.

"iya"
"Aku di jodohin sama Pak kiyai." Jleb. Jantungku terasa berdetak lebih cepat. Mataku memanas. Hatiku sakit seperti tertusuk pisau. Bagaimana mungkin hubungan yang sudah aku jalani dengannya selama dua tahun walau tanpa ikatan pacaran harus berakhir begitu saja. Kenapa dia tak menerangkan kepada Kiyainya itu kalau ada aku disini yang menantinya. Ada aku disini yang telah diberi harapan olehnya. Kenapa semua ini terjadi? kenapa harus terjadi di saat-saat waktu penantian itu akan berakhir. Inikah balasan penantianku? Air mataku mengalir deras. Aku hanya diam mengabaikan penjelasannya. Pikiranku kacau. Dadaku terasa sesak.

"Num, maafkan aku. Aku gak bisa menolak permintaan Pak Kiyai," tuturnya. "Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu, aku ingin kamu jadi istiriku tapi Allah telah memilihkan jalannya untukku." ujarnya terus "Aku yakin Tuhan punya sesuatu yang indah untukmu."
Ya Tuhan apakah ini keputusan akhirMu? Takdir yang kau tetapkan untukku? Rangkul aku Tuhan, bimbing jalanku. Aku yakin semua takdirMu baik untukku. Kuatkan aku Ya Rabb. Aku menangis mengadu kepada penulis skenario di kehidupanku. Setahun kemudian aku resmi lulus dari sekolahku dan resmi menyandang gelar Sarjana. Malam harinya, aku mendapatkan ucapan selamat dari Rakha melalui sms. Aku juga memberikan ucapan selamat kepadanya. Setelah kejadian waktu itu aku dan Rakha memutuskan untuk tetap bersahabat. Meskipun hatiku sakit namun aku mengerti bahwa apa yang kita inginkan tak selamanya akan terwujud. Jodoh, mati,rejeki semua sudah diatur dan telah tertulis dalam catatanNya.

Sabtu, 15 Februari 2014

Puisi untuk Ibu

Orang tua mana yg tidak bahagia dengan kelahiran buah hatinya,,
21 Mei 1995 dirumah sakit Harapan kita lahirlah seorang bayi perempuan bernama Rachel Adelia.
Sang ibu sangat bahagia dengan kelahiran anaknya "cantik ya pah anak kita"kata si ibu kepada suaminya,"iya mah".
Pengorbanan ibu pun terbalas sudah, 9bulan ia merawat dan menjaga sang anak agar selalu sehat dan kuat.
Namun kebahagian itu tak berlangsung lama..
saat sang anak berusia 1tahun 5bulan orangtuanya membawa ia berlibur kepuncak dan naasnya kendaraan yang mereka gunakan mengalami kecelakaan yang mengakibatkan sang anak mengalami kebutaan.
"tapi anak saya dapat disembuhkan kan dok?"tanya sang ayah,
"bisa asalkan ada pendonor mata yang cocok dengan anak bapak"
sementara sang ibu hanya bisa menangis mendengar perkataan dokter.
***
15tahun kemudian..
Gadis itu tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pintar, sekarang ia duduk dikelas 1SMA Pelita Harum sekolah Luar Biasa.Meskipun matanya tidak bisa melihat ia tetap bersemangat untuk menuntut ilmu,alhasil ia terpilih menjadi juara umum dikelasnya ia juga mempunyai kelebihan lain yaitu membua puisi dan menulis cerpen.
"del, makan dulu yuk udah siang!!nanti kamu lanjutin lagi nulisnya"ajak ibu
"iya bu"ia pun menuruti perintah ibunya
Adel sangat menyayangi ibunya , baginya ibu adalah segala-galanya.ibunya selalu mensupport dia,membantu dia untuk mewujudkan cita-citanya sebagai seorang penulis,dan yang terpenting ibunya tak pernah malu mempunyai anak sepertinya.
Adel merupakan anak tungal karna saat ia berumur 5tahun ibunya mengalami keguguran karna penyakit kista yang dia alami yang mengharuskan dokter megangkat rahim sang ibu.
"ibu makasiih ya"ucap adel
"makasih untuk apa sayang?"tanya ibu
"makasih karna selama ini ibu udah menjaga,menyayangi,dan mencintai adel dengan sepenuh hati"ujar adel
"sama-sama sayang.. bukankah itu sudah menjadi tugas dan kewajiban seorang ibu"tutur ibu
"ia, pokonya ibu adalah ibu terhebat dan terdasyat didunia"kata adel seraya memeluk ibunya.

"hukk..hukk..huukk"ibu terbatuk..
"ibu gak papa kan?"tanya adel sambil melepaskan pelukannya.
"gapapa sayang,ibu ke kamar mandi dulu ya"
dikamar mandi ibu membersihkan mulutnya yang sudah penuh dengan darah.

Penyakit kista yang ibu alami semakin parah sehingga malam itu ayah langsung membawa ibu kerumah sakit..
"ayah ibu gak kenapa-kenapa kan?"tanyaku sambil menunggu didepan ruang ICU,"doakan saya ya sayang semoga ibu kamu tidak kenapa-kenapa,dokter sedang memeriksanya didalam"ujar ayah mencoba menenangkan.
"gimana dok keadaan istri saya?"tanya ayah panik
"ayo bapak ikut saya keruangan"ajak dokter
"baik dok"ayah menuruti, "adel kamu tunggu sebentar ya disini ayah mau bicara dengan dokter!!"perintah ayah.
"baik yah"
"keadaan istri bapak sudah tambah parah, usianya mungkin tinggal beberapa hari lagi. dia berpesan kalau nanti dia tidak bisa diselamatkan ia ingin mendonorkan matanya untuk adel"ujar dokter
"ya ALLAH"ayah menangis mendengarnya...

***
Jum'at 08 januari 2010
hari ini ibu akan dikebumikan, ditempat pemakaman adel tak henti-henti menangis.
setelah orang-orang sudah beranjak, adel dan ayahnya masih berada disana
"ibu adel sayang sama ibu,ibu jangan tinggalin adel"tangisnya,
"sudah sayang iklaskan kepergian ibu mu biarkan dia tenang disisinya"ayah menasehati...
"tapi yah"
"ayo kita pulang,kata dokter kamu harus banyak istirahat"ajak ayah

aku terus memandangi wajah ibu "ibu kamu cantik sekali"kataku,
aku menggoreskan tinta dibuku harianku...

Untuk ibu ku tercinta...
ibu...
kau bagaikan malaikat yang tuhan turunkan untukku..
kelembutan tanganmu memberiku kehangatan..
ketegaranmu bagaikan karang dilautan..

ibu..
senyummu membuat hatiku tenang..
ucapanmu selalu menyejukkan..

ibu..
ku ingin selalu dalam dekapanmu..
kau hilangkan segala ketakutan..
kau terangi setiap kehidupan..

ibu..
terimakasih atas segala waktu yg kau berikan..
atas segala rasa sayang yg kau curahkan..
dan atas pengorbanan yg kau lakukan..

ibu..
aku sungguh menyayangimu,,
hari ini , esok dan seterusnya..
sampai ajal memanggilku..

"ibu terimakasih, berkat ibu aku bisa melihat betapa cantiknya engkau,betapa indahnya mahluk ciptaan tuhan.ibu adel janji adel akan membuat ibu tersenyum bangga disana..semoga ibu tenang ya disurga"ucapku lirih..
"ThE End"

mav ya kalau jelek,,
mohon kritik n saran nya.